Monday, December 10, 2007

BANG SAHRIL

Dulu waktu kecil karena termasuk anak yang berukuran besar, aku tidak begitu "in" dalam bidang olah raga - sampai sekarang juga masih! - tapi aku suka juga sekali-sekali ikut bermain bola dengan teman-teman yang memang lebih bisa dibandingkan aku.

Di kota kecilku, Binjai, seperti juga kota lainnya di Indonesia, ada klub perserikatan sepak bola. Di tempatku namanya PSKB (Persatuan Sepak Bola Kotamadya Binjai)tapi kalo masalah prestasi ga usah di tanya.

Yang kuingat dari kesebelasan ini adalah salah seorang pemainnya yang sempat jadi idolaku sewaktu masa kecilku. Namany Bang Sahril. Dia itu orang pertama yang aku lihat bisa juggling bola dan menangkap bola itu dengan tengkuknya. Dan badannya bentuknya mungkin kayak Ade Rai kalo dia sedikit tinggi. waktu itu bukan aku saja yang mengidolakannya tapi juga hampir semua teman-teman waktu itu.

Lebih sepuluh tahun sejak masa-masa itu, dan dalam waktu yang cukup panjang itu aku cukup jarang bertemu lagi dengan Bang Sahril. Mungkin sekali-sekali saja. Kalau aku tidak salah dalam waktu itu dia telah berhenti sebagai pemain bola yang memang tidak dapat menjamin kehidupannya. pastilah sebagai manusia normal, dia ingin kehidupan yang lebih baik dan membangun keluarganya sendiri.

Dalam beberapa minggu belakangan ini, aku cukup sering bertemu dengan Bang Sahril. Hampir setiap hari. Dan satu hal yang ku perhatikan sangat berbeda dengan Bang Sahril yang dulu ku kenal. Badannya yang kekar dan nampak kuat telah hilang. Sekarang bahkan jalannya sedikit bungkuk. umurnya mungkin tak lebih dari 37 tahun tapi penampilannya telah nampak seperti orang yang berumur tak kurang dari 50 tahun.

Suaranya juga telah hilang. Dulu yang kuingat suaranya agak dalam dan berat. Yang sekarang masih berat tapi tidak lagi dalam tapi lebih seperti orang yang menderita penyakit paru-paru. Sayang, orang yang dulu begitu mengagumkan menjadi begitu menyedihkan.

Nasib Bang Shril sebagai seorang atlet yang terlunta-lunta dimasa tuanya bukanlah satu-satunya kisah sedih para olahragawan kita. Elias Pical yang mantan juara dunia tinju. Pada masa tuanya beralih profesi menjadi seorang bandar narkoba. Dan masih banyak lagi mantan atlet-atlet kita yang mengalami nasib yang sama.

Memang di satu sisi, hal ini juga merupakan salah sang atlet sendiri yang tidak jeli mempersiapkan hari tuanya dimasa kejayaan. Namun disisi lain keadaan ini juga diciptakan karena kurangnya perhatian negara dan masyarakat bagi para putra-putrinya yang berprestasi.

Yah, memang tidak banyak yang bisa diperbuat sekarang ini dengan kondisi yang seperti ini. Tapi jangan sampai ada agi Bang Sahril-Bang Sahril yang lain ataupun Elias Pical-Elias Pical lainnya dimasa depan.

Sayang, aku sendiri tidak bisa berbuat banyak terkecuali mencerita kisah kecil ini di blog kecil ini.



Read More......

Monday, December 03, 2007

"SPEECH AND SILENCE, A LITERA JOURNEY OF GUJARATI WOMEN"


Saat kita membicarakan suatu bangsa, satu yang sering terlupa adalah pergerakan wanita didalam bangsa itu. Demikian juga saat kita menelaah perkembangan kebudayaan dan pemikiran, hal yang sama harus diterapkan. Perkembangan suatu masyarakat selalu dimulai dari kumpulan masyarakat yang terkecil yaitu keluarga dan wanita selalu-diakui atau tidak-memegang peranan terbesar dalam tataran somah. Salah satu cara untuk membuat catatan perkembangan pemikiran wanita adalah dengan menerbitkan kompilasi tulisan yang dibuat oleh wanita.

Gujarat merupakan salah satu negara bagian di India yang banyak menyumbangkan pemikir-pemikir terbaik India termasuk salah satunya Muhammad Ali Jinnah yang di agung-agungkan sebagai Bapak Pendiri Pakistan.

Dalam usaha untuk memberikan gambaran kecil tentang sumbangan wanita Gujarat dalam bidang penulisan, penerbit Zubaan menerbitkan "Speech and Silence, A literary Journey by Gujarati Women" dan sebagai penterjemah adalah Rita Kothari. Rita Kothariadalah salah seorang tokoh pergerakan wanita India yang juga merupakan staf pengajar pada St. Xavier's College, Ahmedabad.

Tentu saja dalam anthologi ini tidak semua karya tulis wanita-wanita Gujarat dapat diakomodir. Namun dari karya-karya yang tercakup didalamnya dapat sedikit banyak memberikan gambaran. rentang waktu penulisan juga terasa luas dari mulai masa prakemerdekaan hingga paska kemerdekaan India.

Anthologi ini terdiri dari 18 cerita pendek atau fragmen dari karya yang lebih panjang. Namun seperti yang diakui oleh sang penterjemah dalam kata pengantar buku ini bahwa tidak cukup banyak karya tulis yang dapat mewakili para wanita dari kelompok pinggiran. Hanya ada satu penulis yang berasal dari golongan dalit yaitu Chandra Shrimali. Mungkin hal ini lebih dikarenakan oleh jumlah penulis wanita Dalit maupun mutu dari tulisan itu sendiri karena setiap pergerakan masyarakat di India termasuk pergerakan Feminis tidak dapat dipisahkan dengan pergerakan kaum Dalit. Dan penerbit buku ini beralasan bahwa penulis Dalit wanita di gujarat baru muncul di era 80-an sehingga tidak banyak karya yang tersedia.

Terlepas dari itu bahkan Chandra Shrimali dalam karyanya "The Stairs" juga tidak mengisahkan tentang masyarakat Dalit itu sendiri. Karya ini mengambil setting masyarakat kelas menengah Gujarat dengan dinamika kehidupan keluarga dan titik berat tulisannya adalah mengenai keselamatan ibu hamil.

Dari semua karya yang terdapat dalam buku ini, dua karaya mengambil bentuk penulisan buku harian. Keputusan ini mungkin diambil oleh penulisnya, Leelavati Munshi dalam "Entries from Vanamala's Diary (An Account of A tragic Decline) dan Bindu Bhatt dalam "Entries from Mira Yagnik's Diary", secara sadar untuk memberikan gambaran personal dari tokoh ceritanya. Namun disatu sisi bentuk penulisan ini dapat dianggap sebagai bentuk insecutiry sang penulis. Dimana sang penulis dapat melepaskan tanggungjawabnya sebagai pencipta menjadi hanya sebagai penyalin.

Karya yang secara gamblang mengkritisi kedudukan wanita dimasyarakat hanyalah dalam karya Leelavati Munshi yang disebutkan diatas selebihnya karya-karya yang ada lebih banyak berisi konflik pribadai sang tokoh. Jika pun ada yang berisi mengenai gambaran masyarakat ataupun keluarga tetapi kurang memberikan usaha untuk mereposisi kedudukan sang tokoh secara khusus atau wanita secara umum.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada dalam penerbitan anthologi ini, apresiasi tingi harus diberikan untuk usahanya dalam memberikan jalan bagi para penulis wanita untuk menunjukkan kiprahnya yang lebih besar.


Read More......

Monday, November 05, 2007

BERHENTI

Pergi dan berjalan membelah bumi.
Langkah-langkah itu tetap menggelora, meregang, menohok.
Bencah-bencah yang mengotori tapak cuma remah
:tak mengenyangkan, tak memuaskan
tak juga menyenangkan

Benang yang ditarik semakin panjang.
Merah menyala dan membara
tapi tak membakar seperti api yang melepuhkan
memanaskan, menghangatkan

Kalau tetap bertanya, untuk apa jawaban?
Kalau tetap Berjalan untuk apa langkah?
Kalau tetap menangis untuk apa air mata?

Merang disawah mulai membusuk.
Burung dipohon mulai beterbangan.
Bunga-bunga mulai luruh dan menjadi tanah.
Dan tanah mulai tergerus angin
terbang mengabu di ranah-ranah yang tak pernah disentuhnya.

Kasar dan menjelaga
:warna telapak mengasah bebatuan, meremuk jarak.
Dupa-dupa mengaroma membuka indera, meretas sukma.
Melayang dan mengambang di antara dedaunan.
Mengangkasa ditemani nada.

Mendarat dan mendarat.
Tergeletak dan menyelepah.
Meliuk dan patah.




Read More......

Friday, November 02, 2007

SESAT?

Dari waktu ke waktu,begitu banyak bermunculan dan berkembang aliran-aliran sektarian yang dianggap sesat oleh masyarakat baik ditopang dengan ketetapan hukum maupun tidak di Indonesia. Dari mulai Darul Arqom, Ahmadiyah, Komunitas Eden hingga yang teranyar aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Musshadeq yang baru saja ditetapkan sebagai sesat oleh MUI.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru dalam pejalanan sejarah Islam di Indonesia. Kisah Syech Siti Jenar yang dihukum pancung oleh para Wali Sanga di Kerajaan Demak mungkin dapat kita tarik sbagai titik awal kekuatan negara dalam menertibkan atau dengan kata yang lebih kasar menindas aliran-aliran yang dianggap menyimpang dari ajaran agama utama. Namun jika ditelaah lebih dalam, apakah yang menjadi penyebab suburnya aliran-aliran sempalan ini dalam konteks Indonesia?

Dari awal kedatangan Islam di Indonesia, unsur sinkretisme agama sangat kental mempengaruhi perkembangan agama Islam. Pada masa awal, masyarakat di wilayah nusantara adalah masyarakat penganut agama Hindu dan Budha serta berbagai sistem kepercayaan lokal yang telah lebih dulu ada di tengah masyarakat. Paham monoteistik Islam sangat jauh berbeda dengan sifat politesitik Hindu/Budha serta sifat panteistik sistem kepercayaan lokal. Perbedaan ini pada masa awal penyiaran Islam di Indonesia mengalamai proses sinkronisasi dimana sebagian dari ritual ajaran lama diambil dan menjadi bagian dari ritual agama baru.

Bagi kebanyakan pemeluk agama baru, sinkretisme muatan lokal ini dalam banyak kasus menjadi hal yang utama dibandingkan dengan rukun-rukun yang seharusnya menjadi amalan utama dari agama yang dianutnya dalam hal ini Islam. Hingga saat ini, bentuk sinkretisme ini juga masih banyak dirayakan ditengah masyarakat seperti berbagai acara "grebeg", "larung", dan lain-lainnya. Kegiatan ini jika tidak dilakukan dianggap dapat membawa bencana bagi masyarakat yang mempercayainya. Bentuk praktek ini dapat dianggap sebagai bentuk sinkretisme politeistik/panteistik kedalam ajaran agama Islam karena dalam setiap prakteknya sebagian menggunakan doa-doa dalam agama Islam. Dalam perayaan ini bentuk penyearahan diri terhadap ilah-ilah yang dipuja diberikan dalam bentuk pemujaan fisik. Dan pemujaan kuburan-kuburan keramat dapat kita telaah juga sebagai salah satu bentuk sinkretisme tersebut dimana yang dianggap sebagai pemberi rahmat adalah leluhur-leluhur yang dianggap memiliki kelebihan spiritual.

Dari sisi psiko-sosiologis, menjamurnya aliran-aliran ini juga dapat disikapi sebagai terjadinya perkembngan negatif measyarakat dalam menghadapi perubahan-perubahan disekitar mereka. Ketidakpastian kehidupan membuat banyak dari anggota masyarakat yang mengalami keguncangan pegangan hidup dan krisis keimanan. Janji-janji akan kehidupan yang lebih baikdi dunia dan kehidupan yang akan datang yang diharapkan merupakan pencapai "taken for granted" atau datang begitu saja tanpa ada usaha-usaha untuk menggapainya. Saat janji-janji terasa semakin jauh maka para penganut agama di masyarakat mencoba mencari pegangan-pegangan lain yang sepertinya dapat memberikan jalan pintas ke tujuan akhir.

Kurangnya pemahaman menyeluruh seorang penganut agama juga merupakan salah satu faktor tumbuh kembangnya aliran-aliran sempalan ini. Pemahaman menyeluruh terhadap ajaran agama menjadi kunci penting dalam menangkal masuknya pemahaman agama yang menyimpang. Terkadang saat seseorang yang tidak memiliki cukup kemampuan dan pengetahuan mengenai ajaran suatu agama memaparkan agama tersebut, yang terjadi adalah keluarnya dalil-dalil yang menyimpang yang digunakan orang tersebut untuk memutupi kekurangannya.

Bagi penganut agama, politisasi agama juga merupakan salah satu penyebab hilangnya kepercayaan terhadap agamatersebut. Di Indonesia, sejak terbuka lebarnya pintu demokratisasi, begitu banyak tokoh dan cendikiawan agama dalam hal ini Islam, terjebak dalam praktek politisasi agama. Saat sang tokoh melakukan penyimpangan baik secara sadar maupun tidak maka yang pertama kali menjadi bahan sorotan adalah agama yang ia gunakan sebagai kendaraan. Hal ini akanmenyebabkan pemeluk agama tersebut yang masih berada di area abu-abu atau pemeluk dengan pemahaman sempit dan ditambah dengan faktor keimanan yangkurang akan menyebabkannya makin kehilangan pegangan terhadap kepercayaan dan keimanannya.

Pada banyak kasus, pengikut utama aliran-aliran ini adalah kaum muda yang ada di bangku pendidikan. Pada tingkat ini, kaum muda ini masih dalam proses pencarian jati diri. Dengan sifat kritisnya, kaum muda banyak mempertanyakan penyimpangan-penyimpangan yang mereka anggap terjadi di agama yang selama ini mereka anut dan yakini.

Dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV nasional, Azumardi Azra seorang tokoh cendikiawan muslim Indonesia mengutarakan bahwa dibutuhkan kearifan tokoh agama dan organisasi-organisasi Islam baik yang besar maupun kecil untuk melakukan pendekatan ang mendasar terhadap umat terutama kepada kaum muda. Cara-cara konvensioanal yang digunakan selama ini dalam siar Islam dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan zaman. Dibutuhkan cara-cara baru dalam siar Islam agar mampu menarik minat dan perhatian umat.

Penyelesaian-penyelesaian konfrontir terhadap aliran-aliran ini seperti yang selama ini dilakukan bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalaha ini. Umum diketahui bahwa dalam setiap paham baru pasti tumbuh unsur-unsur fanatisme. Pendekatan represif hanya akan melahirkan martir-martir baru yang dapat menjadi sumbu penyulut perlawanan. Seharusnya pendekatan dialogis dari hati ke hati lebih dikedepankan untuk menyelesaikan masalah ini. Pendekatan ini lebih bermanfaat dibandingkan dengan hukum yang memberikan label sesat bagi aliran-aliran ini. Karena pendekatan ini lebih berdasarkan hukum HAM yang diterima secara universal dan Undang Undang Dasar kita juga telah menjamin hak bagi setiap warga negara untuk berserikat dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing terutama setelah penghapusan daftar agama yang diakui negara.

Peran serta masyarakat juga menjadi penting dalam melakukan pembinaan bagi pengikut aliran-aliran ini dengan mengesampingkan jalan-jalan kekerasan. Dengan catatan bahwa kata "pembinaan" dimaknai sebagai bentuk penerimaan dan pengarahan dengan jalan-jalan damai bukan dengan makna penghukuman sebagaimanamakna yang melekat kuat dengan kata tersebut selama ini.


Read More......

Wednesday, October 31, 2007

SUMPAH PEMUDA

28 Oktober sekali lagi diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda oleh seluruh bangsa Indonesia, khususnya para oleh kaum muda Indonesia. 28 oktober selalu digadang-gadangkan sebagai salahsatu tonggak awal kebangkitan rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang pada saat itu maih berada dalam kungkungan pengaruh imperialis Belanda.

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-79 tahun ini ada sesuatu yang terasa baru walaupun dengan racikan bahan yang itu-itu saja. Bertempat di gedung Arsip Nasional dengan dimotori oleh Meneg Pora Adhyaksa Dault, elemen pemuda Indonesia sekali lagi mengungkapkan ikrarnya dengan nama Deklarasi Pemuda Indonesia. Dengan deklarasi ini para pemuda Indonesia para pemuda Indonesia pada hakikatnya ingin menyatakan bahwa sekaranglah saatnya tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini harus diserahkan kepada mereka. jargon ini bukanlah hal yang baru karena memang dari tahun ketahun keinginan yang sama selalu diutarakan.

Selalu dan selalu diungkapkan dalam setiap kesempatan bahwa bangsa yang ingin menjadi bangsa yang maju harus memberikan yang besar bagi kaum mudanya untuk bertumbuh kembang dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pemikiran mereka yang revolusioner dan inovatif, para pemuda memiliki kemampuan untuk merubah suatu tatanan masyarakat yang stagnan menuju arah yang lebih baik. Pemuda juga memiliki energi yang cukup untuk mewujudkan cita-cita inovatifnya jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang digolongkan sebagai kaum tua.

Memang pada saat ini yang diperlukan oleh bangsa ini adalah peikiran inovatif yang berani dan mampu untuk mendobrak pragmatisme yang telah bercokol terlalu lama dan telah menjadi norma dalam tatanan kehidupan masyarakat terutama dibidang politik. Dan terutama dibidang inilah dibutuhkan pemikiran-pemikiran inovatif tersebut dan juga idealisme para emuda yang belum diwarnai oleh embel-embel ekonomi.

Dimanapun di dunia ini, politik selalu dianggap sebagai bentuk investasi yang diharapkan dapat memberikan imbal hasil yang besar. Imbal hasil yang terbesar adalah terciptanya suatu tatanan masyarakat yang madani dan tercerahkan. Imbal hasil ini hanya dapat diraih jika kehidupan politik dianggap sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya akan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.

Namun di Indonesia dan umumnya negara berkembang, politik selalu dianggap dan diperlakukan sebagai bentuk investasi jangka pendek yang berorientasi ekonomi. dan untuk mendapatkan imbal hasil ekonomi inilah praktek ragmatisme politik berkembang. Dan demi pemenuhan imbal hasil ekonomi ini, pencapaian besar di masa depanlah yang pertama kali dikorbankan.

Setiap pergerakan dan keputusan politik hari ini seharusnya memberikan dasar-dasar yang lebih kuat untuk pergerakan dan keputusan politik di masa depan. Namun kebalikan dari apa yang diharapkan tersebut, banyak, jika tidak ingin disebut semua, pergerakan dan keputusan politik hari ini yang akan membatasi gerak dinamik kehidupan di masa depan.

Banyak keputusan-keputusan politik yang dikeluarkan dengan dasar pemikiran yang berandai-andai. Sebagai contoh adalah bahwa yang berhak untuk menduduki posisi di komisi-komisi yang berfungsi sebagai badan pengawas kehidupan bernegara adalah mereka-mereka yang berumur minimal 40 tahun tanpa ada batas atas. Jika dicermati lebih dalam, pembatasan ini tidak memiliki dasar pemikiran yang benar-benar solid. Diandaikan bahwa orang-orang yang berumur dibawah 40 tahun tidak memiliki kemampuan dan cukup pengalaman untuk mengemban tanggung jawab dalam komisi-komisi tersebut. Dan pada akhirnya, tanpa menuding orang perorang, komisi-komisi tersebut berfungsi lebih sebagai badan pengumpul pensiunan. Tanpa merendahkan kemampuan orang-orang yang dipilih untuk duduk dibadan-badan bentukan pemerintah tersebut, banyak dari generasi muda yang cukup memiliki kemampuan untuk menjalankan roda kehidupan kemasyarakatan.

Keterbatasan akses bagu kaum muda untuk melakukan perubahan di masyarakat secara signifikan akan melahirkan rasa gelisah diantara kaum muda tersebut. kegelisahan-kegelisahan ini menemukan jalan penyalurannya melalui jalur-jalur sub-altern society yang kental dengan paham sektarian fundamentalis dan primordialisme sempit. Partai-partai politik yang seharusnya berfungsi sebagai garis terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat terutama dalam hal ini generasi muda, lebih mengedepankan keinginan-keinginan elitenya untuk mempertahankan dan/atau memperebutkan hegemoni kekuasaan tanpa ada alih generasi ideologis.

Alih generasi ideologis harus lebih dikedepankan didalam lembaga politik yang ada saat ini sehingga pemimpin-pemimpin di masa depan memiliki idealisme dan integritas tinggi untuk menjalankan roda kemasyarakatan bukannya seperti yang berkembang saat ini dimana generasi muda yang berada dalam lembaga-lembaga politik tersebut dihadapkan dan dibiasakan dengan pragmatisme politik. Keterbiasaan dan penerimaan pragmatisme politik norma hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak memiliki karakter.

Disisi lain, penyaluran aspirasi generasi muda melalui jalur-jalur sektarian dan prmordialistik juga akan menyebabkan keroposnya sendi-sendi kemasyarakatan. Pemimpin yang berpaham sektarian dan primordialistik hanya akan menjadi pemimpin yang berpikiran sempit tanpa dapat menerima atau resisten terhadap perbedaan dan perubahan-perubahan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini. Pemuda seharusnya mendapatkan paparan yang seimbang terhadap paham-paham yang ada di masyarakat bukannya hanya terhadap satu dua paham yang eksklusif. Paparan inisangatlah penting dalam proses pembentukan pemimpin di masa depan agar para kaum muda ini mengetahui dan memahami secara menyeluruh kelebihan dan kekurangan dari setiap paham.

Kembali kepada keterbukaan akses bagi generasi muda kedalam kekuasaan mainstream, pencalonan independen merupakan salah satu jalur terbaik yang dimiliki generasi muda. Dalam sistem ini generasi muda dapat memajukan calon yang mereka anggap memiliki kemampuan dan dapat membawa aspirasi mereka untuk perubahan. Dengan jaringan yang mereka miliki dan kriteria-kriteria mereka yang mungki berbeda dari apa yang dimiliki oleh lembaga-lembaga pencalonan yang telah mapan, generasi muda dapat memberikan warna yang berbeda dalam dinamika kehidupan kemasyarakatan. Ciri khas generasi muda yang inovatif dan idealis merupakan nilai lebih yang dapat mereka tawarkan saat berhadapan dengan kemapanan.

Dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, setiap perubahan selalu dimotori oleh kaum muda yang telah bosan menunggu datangnya perbaikan. Demilian pula dengan bangsa Indonesia, selalu diwarnai oleh pergerakan kaum muda. Namun selalu saja hal yang sama terulang dimana visi jauh kedepan kaum muda ditunggangi dan dinikmati oleh pragmatisme yang menjadi norma dan kebiasaan. Oleh sebab itu dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan Deklarasi Pemua Indonesia, sekaranglah saatnya bagi para pemuda untuk bersatu padu guna mencapai perubahan signifikan kearah perbaikan dengan menghilangkan sifat pragmatis dan mengedepakan karakter yang idealis dan berintegritas tinggi.

HIDUP PEMUDA INDONESIA!



Read More......

Tuesday, July 03, 2007

DIAN YANG TAK KUNJUNG NYALA

Telah hampir dua minggu sejak menginjak kembali tanah kelahiran dan sepertinya harapanku saat jauh dinegeri seberang tidaklah menemukan hasil. Dulu saat akan pergi kepertapaanku banyak harapan besar kalau nantinya negeriku tercinta menjadi lebih baik daripada saat ku tinggalkan. Namun apa daya harapan cuma tinggal harapan.

Secara semesta, bangsa ini masih sibuk berkutat dengan yang itu-itu saja. Kebanyakan elite politik di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini masih sibuk tentang pembagian hasil 'kerja keras' mereka. Perkutatan para priyayi ini lebih banyak memberikan kemudaratan bagi para rakyat jelata tanpa ada fungsi konkrit ditataran bawah.


Para rakyat besar digedung besar lebih sibuk dengan tarik ulur untuk memanggil pemangku amanat karena keberpihakan melawan negaeri lain, sedangkan masih banyak atap-atap bocor dan dinding-dinding bolong dipadepokan-padepokan dipelosok negeri. Masih banyak kurcaci-kurcaci kecil yang membelitkan tali dileher karena upeti kepada sang empu tak dapat terpenuhi.

Sekarang begitu banyak masalah kecil yang dibesar-besarkan dan masalah besar yang dikerdilkan. Hanya untuk menuliskan serat-serat untuk mencari pengganti mereka, para duta-duta rakyat meminta tambahan untuk tembolok mereka. Sedangkan orang-orang yang mereka suarakan harus mengetatkan sabuk mereka karena untuk mendapatkan sepiring dahar harus semakin banyak mengeluarkan pundi-pundi yang semakin mengecil.

Para raksasa penculik bayi yang lari ke seberang lautan atau bersembunyi dibalik lebatnya hutan persada belum juga dapat ditemukan. Bahkan saat mereka berjalan diterang bulan, tangan-tangan punggawa negeri tak juga dapat menjamah para raksasa itu. Bayi-bayi yang seharusnya dapat menjadi sesajen untuk kebaikan desa juga hilang tak jelas dimana rimbanya. Yang tertinggal hanya orang-orang desa yang ketiban sial karena harus mencari sesajen baru.

Dan jika harus dirunut terus, begitu banyak soal yang tak selesai dan mengkin takkan selesai.

Ditataran bumi, saat ku menjejakkan kaki di persada nusantara begitu banyak kerusakan dan kemunduran disepanjang pertapakanku. Pembangunan seharusnya merupakan kegiatan yang menunjukkan hasil atas sesuatu yang dibangun. Tapi disepanjang pertapakan yang terlihat hanyalah keadaan yantg semakin hancur.

Dian yang tak kunjung padam sekarang seakan menjadi dian yang tak kunjung nyala. Dan semakin banyak terlihat mereka-mereka yang berjalan tertatih-tatih ditimpa beban yang semakin berat tak berkurang. Nyiur-nyiur memang masih tetap menari gemulai tapi gemulainya bukan karena estetika seni tapi karena memang terpaksa untuk mengirit tenaga.

Memang sepasang putaran matahari bukanlah waktu yang panjang. Untuk semut mungkin jangka itu terasa panjang dan lama. Tapi untuk mereka yang berjalan dengan dua kaki dan tubuh yang ditutupi secarik kain, masa itu adalah masa yang sangat pendek. Tapi mungkin cukup untuk menciptakan sedikit perubahan-perubahan baik dan juga sedikit kerusakan-kerusakan kecil.


Read More......

Thursday, June 07, 2007

INGATKAN AKU

Nanti, waktu kita pulang
Ingatkan aku merdunya petikan gitar di gardu ujung gang
Nanti, saat kita sampai di gerbang rumah
Ingatkan aku betapa wajah tak banyak berubah
Ingatkan juga betapa mendayu panggilan dari surau di ujung jalan
Ingatkan aku jika kau juga masih ingat




Apa kau masih ingat apa yang kita tinggalkan?
Jalan-jalan yang ku ingat penuh dengan lobang-lobang menganga
Aku lupa apakah ada suara burung dari semak di samping rumah
Samar terbayang warna air yang mengalir di tepian tempat kita berenang
Nanti, saat kita pulang tolong ingatkan aku
Ingatkan aku jika kau juga masih ingat

Buih-buih mungkin datang dan menghilang
Tapi apa kau percaya kalau ku katakan riak selalu ada dan tak pernah menghilang
Coba dengarkan nyanyian-nyanyian itu
Suara yang menyenandungkan tak lagi sama
Tapi nada dan lagu tak pernah berbeda
Cerita yang sama, tangis yang sama





Read More......

Sunday, June 03, 2007

LUCK IS WHAT MAKE ME SPECIAL

Setiap manusia dilahirkan berbeda satu sama lainnya. Tidak ada dua manusia dimuka bumi ini yang benar-benar mirip dan sama bahkan dua anak kembar identik pasti memiliki perbedaan baik dalam ciri-ciri fisik maupun perwatakan. Dan setiap perbedaan inilah yang memberikan keistimewaan bagi tiap-tiap individu.


Kenapa aku istimewa dibandingkan dengan manusia-manusia yang lain? Dari dulu aku tak pernah berpikiran bahwa aku memiliki keistimewaan kalau dibandingkan dengan orang-orang yang ku kenal. Alasan utamanya karena aku takut untuk menjadi besar kepala dan ‘over confident’ saat menghadapi hal-hal yang aku anggap aku memiliki keistimewaan didalamnya. Banyak diantara orang-orang yang kukenal yang dianggap memiliki keistimewaan disuatu bidang menjadi besar kepala dan melihat orang lain yang kurang mampu dibandingkan dirinya dengan mata mengecil.

Dalam pengertianku, keistimewaan seseorang adalah kemampuan lebih seseorang dalam suatu bidang. Mungkin ada orang yang sangat tanggap dalam bidang-bidang yang memerlukan keahlian otak tapi ada juga orang-orang yang lebih tanggap dalam bidang-bidang yang membutuhkan koordinasi fisik tinggi. Jadi seorang yang memiliki gelar Phd dalam sepuluh bidang yang berbeda belum tentu lebih istimewa dibandingkan dengan seorang pengemudi becak. Sang terdidik mungkin dengan mudah menyelesaikan permasalahan akademik tapi saat harus mencari jalan yang bebas kemacatan lalu lintas belum tentu dia lebih tahu daripada si abang becak.

Tapi kalau ku pikir-pikir, aku memang memiliki keistimewaan yang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Dan keistimewaannya! Aku selalu memiliki hidup yang penuh dengan keberuntungan. mungkin keistimewaan ini dianggap absurd karena keberuntungan adalah hal yang tidak bisa dan tidak memiliki suatu ukuran pasti. Mungkin yang ku anggap keberuntungan bagi yang lain hanyalah kebetulan semata. Tapi terkadang dalam beberapa hal faktor keberuntung adalah hal yang paling menentukan. Dan memang faktor ini adalah faktor utama dalam segala pencapaianku.

Aku selalu merasa bahwa aku selalu berada di waktu dan tempat yang tepat. Dan mungkin perasaan ini dimulai saat aku berada dibangku SMU. Dan keberuntungan ini pastinya terdengar seperti keberuntungan yang kurang ajar karena keberuntunganku dimulai dengan meninggal dunianya bapakku. Tapi bukankah sengsara dapat membawa nikmat seperti buku karangan Tulis Sutan Sati? Mungkin kalau bapakku tidak meninggal saat itu, pendidikan SMUku takkan selesai karena sampai saat itu aku tak pernah berpikir tentang perlunya menyelesaikan pendidikan. Dari skorsing dan pemecatan di SMU pernah kurasakan dan itu juga tidak menyadarkanku yang cukup dalam terbenam dalam kecanduan narkoba dan segala kenakalan remaja lainnya. Jadilah dengan terbentur disana sini selesai juga pendidikan dasarku.

Nah, dibangku kuliah keberuntungan masih juga menyertaiku. Mungkin kalau teman-teman yang mengenalku takkan percaya kalau ku katakan kalau aku selesai kuliah karena keberuntungan. Memang secara akademis aku tidak jauh-jauh tertinggal dari teman-temanku yang lain dan bisa dikatakan lebih dibandingkan teman-teman dekatku. Tapi penyakit lama kambuh lagi. Tapi beruntung aku kenal seorang teman yang sayangnya tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Sewaktu kuliah aku punya teman dekat bernama Tasya dan mungkin dia sempat cerita ke bapaknya tentangku. Jadi setiap bertemu dengan bapaknya, bapaknya selalu tak lelah-lelahnya untuk mengingatkanku untuk menyelesaikan kuliahku. Setiap bertemu bapaknya selalu bilang “semester ini serius aja, nanti semester depan baru main lagi”, sampai aku bosan mendengarnya tapi lama-lama masuk juga keotak karena hampir tiap hari dan tiap semester mendengar perkataan yang sama. Karena beruntung kenal dan dinasehati ole bapaknya si Tasya selesai juga akhirnya S1ku walaupun molor satu tahun.

Saat selesai kuliah aku tak pernah serius untuk mencari kerja, walaupun banyak teman-temanku yang pontang-panting mencari pekerjaan tapi waktu itu aku sih santai aja. Soalnya kalau masalah keuangan gampang memang bukan dapat dari mamakku karena memang setelah selesai kuliah semua tunjangan juga turut tamat. Kalau uang selalu ada yang datang sampai aku sendiri tak tahu darimana datangnya tapi jangan ditanya haram halalnya yang penting rokok lepas.

Beberapa bulan setelah tamat kuliah terjadi bencana tsunami yang menelan ratusan ribu korban dan banyaklah NGO-NGO luar negeri yang datang ke Indonesia dan hampir semua menjadikan Medan sebagai pusat kegiatannya dan kebetulan aku tinggal tak jauh dari Medan. Awalnya memang aku ada mengirimkan lamaran ke salah satu NGO yaitu MSF-Ch tapi setelah lama tak ada juga panggilan. Salah sorang temanku mendapatkan panggilan interview dan dia memintaku untuk menemaninya ke kantor NGO itu yang saat itu berada di Hotel ASEAN. Nah, si bule yang menginterview temanku itu salah tanggap dan menganggapku juga datang untuk interview kerja dan akhir dapatlah aku pekejaan di NGO itu. Setelah beberapa minggu aku dipindahkan dari Medan ke Pulau Simeulue, Aceh. Dan beruntungnya aku punya abang sepupu yang menjadi perwira POLRI di pulau itu jadi dalam setiap pekerjaan yang harus berhubungan dengan birokrasi gampang untuk diatur dan dikantor aku mendapat review yang baik karena setiap pekerjaan selalu selesai dengan baik padahal aslinya mengandalkan koneksi. Yah, tahulah kalau di Indonesia kalau tanpa koneksi yang dapat pastinya cuma jalan buntu.

Dari mulai mengenal yang namanya bea siswa, aku selalu memiliki keinginan untuk mendapatkan fasilitas ini. Karena dalam pandanganku apalagi saat masih dibangku pendidikan dasar, setiap murid yang mendapatkan bea siswa selalu dianggap sebagai murid-murid istimewa. Tapi sayangnya dari dulu tak pernah aku bisa mendapatkan bea siswa mungkin karena alasan budi pekerti. Memang dari SD sampai kuliah aku selalu menjadi murid yang pembangkang jadinya kecil kemungkinan unutk mendapatkan bea siswa karena pasti sulit bagiku untuk mendapatkan penilaian yang baik dari guru-guru terutama dalam bidang budi pekerti. Sampai saat aku selesai kuliah, dimana waktu itu dosen pembimbing skripsiku menganjurkanku untuk mendaftar program bea siswa ICCR ke India tapi pada awalnya agak malas juga karena aku sudah merasa jenuh untuk belajar dan membuka-buka buku pelajaran. Tapi untuk menunjukkan rasa apresiasi kepada sang dosen pembimbing jadilah aku mendaftar untuk program itu. Tepat saat kontrakku dengan NGO tempatku bekerja selesai, eh, malah aku dapat panggilan dari Konjen India yang di Medan bahwa aku mendapatka bea siswa untuk mengambil S2 di Central Institute of Foreign Language, Hyderabad. Dan saat ini setelah dua tahun masa belajarku telah selesai dan dalam waktu kurang dari dua minggu dari posting ini aku akan kembali kerumah.

Yah, memang keberuntungan selalu menyertaiku sampai saat ini. Karena keberuntungan aku bisa tamat sekolah sampai jenjang master. Dan karena keberuntungan juga aku bisa melihat negeri lain mungkin tanpa keberuntunganku seumur hidup belum tentu bisa datang dan tinggal di negara selain Indonesia. Yah, memang keberuntungan selalu menyertaiku sampai saat ini dan entah untuk nanti dan karena keberuntunganlah aku menjadi istimewa kalau dibandingkan dengan yang lain. Dan satu keberuntungan yang kita miliki bersama, kita hidup dan bernafas.

Read More......

Wednesday, May 30, 2007

SELAMAT PAGI

Saat pertama kali mata terbuka di pagi hari, pikiran apa yang pertama terlintas? Yang pertama pasti pikiran untuk segera lompat dan berlari ke toilet untuk mengosongkan simpanan semalam. Atau bisa juga pikiran kesal karena terbangun dari mimpi indah yang serasa seperti nyata. Menarik kembali balutan selimut yang terlepas dan pelukan bantal yang melonggar.
Bangun tidur seharusnya adalah waktu yang terbaik sepanjang hari. Saat kita terbangun di pagi hari, tubuh serasa seperti baterai yang telah terisi penuh. Semua beban yang memberati di hari kemarin telah berkurang atau paling tidak sedikit terlupa untuk beberapa saat.

Di pagi hari saat kita terbangun biasakan untuk sekedar berbaring selama sepuluh sampai lima belas menit. Waktu yang tidak begitu lama disaat yang lain adalah waktu yang cukup panjang yang diperlukan tubuh dan pikiran untuk menyesuaikan ritme gerak dengan kebutuhan hari itu. Santai dan coba tentukan rencana hari itu. Coba buat urutan prioritas hari itu. Apa yang pertama dilakukan. Apakan setelah mandi akan memasak nasi goreng dari nasi sisa semalam atau sekedar membeli lontong di warung ujung gang. Tak perlu membuat rencana yang rumit untuk waktu 24 jam, cukup pikirkan apa yang akan kita lakukan untuk waktu dua jam kedepan.
Setelah waktu yang sepuluh sampai lima belas menit itu habis, bangun dan berjalanlah kearah jendela. Buka tirai dan daun jendela kemudian tarik nafas panjang. Walaupun bau dari got sebelah rumah namun coba perhatikan, bahkan bau dari got itu lebih menyengat di siang hari dibandingkan saat anda terbangun dengan udara yang bersih selain yang keluar dari got sebelah rumah. Polusi dari jalan raya depan runah belum sepekat dua jam yang akan datang. Jadi gunakan waktu yang pendek itu untuk menghirup udara yang lebih segar dibanding yang nanti akan dihirup disaat kita akan berangkat dari rumah untuk memulai kegiatan hari itu.
Jika tetangga sebelah rumah yang jendela kamarnya langsung berhadapan dengan jendela kamar kita juga terlihat menongol menghirup udara pagi dari got yang sama, coba sapa. Karena memberi atau menerima sapaan ramah di pagi hari adalah pertanda baik untuk memulai kegiatan hari itu. Sekedar bertanya apa hasil pertandingan sepak bola yang disiarkan langsung di TV tadi malam atau bertanya ada mimpi apa tadi malam, cukup untuk mendekatkan keakraban antar tetangga.

Selesai basa-basi, mandi dan gosok gigi karena jika tak ada got yang membatasi jendela kita dan jendela tetangga, sang etangga pasti bisa mencium bau tak sedap dari liur yang mengering. Atau jangan dulu ke kamar mandi. Lanjutkan kontemplasi pagi itu. Menghisap sebatang rokok sambil berjongkok diambang pintu juga merupakan pilihan yang cukup menyenangkan. Sambil menghisap sebatang kretek, kita bisa memperhatikan lalu lalng para tetangga ang berangkat ke sekola, ke kantor atau ke pasar.

Dari ambang pintu, kita bisa sayup-sayup mendengar klotang klonteng dari dapur rumah sebelah saat sudet beradu dengan penggorengan atau para ibu-ibu yang mengeluh pada penjual sayur tentang harga bahan makanan yang semakin mahal dan kualitas yang semakin buruk. Atau bisa juga mendengar si Ucok kecil anak bang Tongat yang menangis karena dimandikan oleh ibunya dengan air dingin.

Cukup satu batang rokok, jangan terbuai dan menghabiskan berbatang-batang karena ingat kita harus berangkat juga ke tempat kerja. Kalau kurang boleh disambung di WC, hitung-hitung untuk mengurangi rasa bau dari jamban yang belum disedot berbulan-bulan. Mandi dan cukuran, sekali lagi jangan lupa gosok gigi. Karena bahkan senyum yang terindah seduniapun akan kehilangan nilai jika dibarengi dengan bau yang tak sedap seperti jamban yang belum disedot berbulan-bulan.

Kalau masih kurang kontemplasinya, sambung lagi di WC. WC adalah tempat yang paling pribadi dan tenang diseluruh dunia. Tapi kalau bisa jangan WC yang bisa diduduki karena rasa dingin dari gips bahan pembuat WC itu bisa membuat otot-otot pantat jadi tegang dan keluarnya hajat tidak lancar. Usahakan WC yang mengharuskan kita untuk berjongkok karena tekanan di perut dari kedua belah paha memberikan dorongan tambahan jadi tak perlu capek-capek ngedan. Apalagi dengan musik dangdut dari transistor usang yang bisa digantung dipintu seng WC, dijamin kegiatan pribadi semakin nikmat.

Selesai! Mandi! Kemudian sarapan tapi porsi jangan terlalu besar karena bisa-bisa si bos di kantor bisa murka melihat kita mengangguk-angguk kepala karena kantuk bukan karena mengerti. Cukup setengah piring nasi goreng atau dua potong roti dengan selai srikaya ditambah secangkir kopi atau teh dan jangan lupa sebatang rokok kretek favorit. Setelah itu langsung berangkat kerja!

Tunggu dulu! Mungkin sebagian pasti bertanya ada satu lagi ritual pagi yang terlupa, olah raga! Karena didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita tak butuh olah raga pagi! Bukankah setiap pagi kita harus berlari-lari mengejar angkot yang tak mau berhenti lama. Belum lagi ditambah dengan kemacetan lalu lintas yang cukup menguras keringat karena sang angkot tak dilengkapi AC. Kita kan tidak begitu beruntung dengan kendaraan pribadi berAC dengan stereo merdu. Cukup dengan angkutan rakyat dan olah raga rakyat!

Read More......

HIDUP UNTUK MAKAN ATAU MAKAN UNTUK HIDUP

Mana yang benar? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Mungkin untuk menjaga wibawa atau memang benar-benar pecaya, kebanyakan orang pasti akan mengatakan makan untuk hidup. Kalau aku pribadi, jujur aja philosofi ku pastilah hidup untuk makan. Dan aku benar-benar percaya akan pandangan ini.

Mari kita lihat faktanya. Secara bahasa, yang benar adalah hidup untuk makan bukanlah makan untuk hidup. Kata-kata makan untuk hidup secara sintaksis tidak dapat diperdebatkan keabsahannya. Dalam tingkatan frase, kata-kata ‘makan untuk hidup’ telah memenuhi kaidah bahasa yang walaupun tidak memiliki subjek tapi telah memiliki predikat.

Namun secara semantik, kumpulan kata-kata itu tidak memiliki arti. Karena dalam tatanan semantik, suatu kalimat atau frase harus memiliki pengertian yang memenuhi logika. Sebagai contoh: ‘anak melahirkan ibunya’. Secara sintaksis kata-kata tersebut adalah kalimat diatas memiliki subjek kata ‘anak’, predikat ‘melahirkan’, dan objek kata ‘ibunya’, tapi kalimat diatas tidak memiliki logika bahasa dimana seorang anak tidak mungkin untuk melahirkan ibunya sendiri. Begitu juga dengan kalimat ‘makan untuk hidup’, kalimat ini memiliki pengertian bahwa makan bukanlah pekerjaan yang absolut dimana ada pilihan lain untuk hidup. Sedangkan kita ketahui bahwa tidak ada satupun manusia diatas dunia ini yang mampu untuk bertahan hidup tanpa ada asupan makanan.

Dalam kehidupan nyata, kalimat ‘hidup untuk makan’ juga lebih tepat daripada ‘makan untuk hidup’ walaupun bakalan banyak orang yang menyangkalnya terutama mereka-mereka yang menerapkan’ hidup untuk makan’.

Kata ‘makan’ dalam konteks ini bukan hanya memiliki arti memakan makanan, namun ‘makan’ memliki arti yang lebih luas. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan dengan cara yang halal maupun haram. Banyak juga yang menggadaikan semua yang dimiliki secara moril maupun materiil untuk mendapatkan kekuasaan. Banyak lagi yang melakukan apa saja untuk mendapatkan popularitas. Jadi makan itu bukan hanya untuk memuaskan nafsu lapar kita akan makanan tapi makan juga adalah tindak kelakuan kita untuk memenuhi nafsu yang lain.

Dari masa ke masa, jaman ke jaman, manusia selalu berlomba untuk menguasai segala hal yang dapat dikuasai di dunia ini. Jika manusia tidak dapat menguasai suatu hal langsung dari alam atau mampu menciptakan hal untuk memenuhi nafsunya, maka mereka akan berusaha untuk menguasai hal-hal yang telah dikuasai oleh yang lain. Telah banyak manusia yang menjadi korban untuk memenuhi hawa nafsu yang lain dikarenakan keinginannya untuk makan. Karena keinginan manusia untuk makan inilah maka sejarah manusia selalu dipenuhi dengan pembunuhan dan pemerkosaan.

Karena bangsa Eropa lapar dan dapurnya tidak dapat menghasilkan makanan yang cukup dan lambungnya lebih besar daripada yang lain maka mereka berjalan kebenua lain yang memiliki dapur yang menghasilkan makanan-makanan lezat yang melimpah ruah. Jadilah bangsa Eropa selama ratusan tahun menumpang makan kebangsa lain dengan terkadang lupa untuk dibayar dan meninggalkan sampah yang menumpuk.

Yang terbaru, mungkin rasa lapar akan minyak bumi. Setiap negara yang memiliki hasil bumi yang melimpah adalah dapur dan tong sampah untuk mereka-mereka yang lapar. Sampahnya?! Ketidakamanan karena sang lapar ingin menguasai dapur sehingga tidak perlu makan dengan takaran si koki tapi dapat makan sampai perut melendung. Jadinya si koki dihasut dengan sang istri agar sang lapar bisa makan bebas. Kalau si koki sampai berkelahi dengan sang istri maka sang lapar bisa mengambil pihak dengan imbalan makan gratis dan juga sang lapar bisa menjual alat-alat masak baru karena bakalan ada dapur baru. Jadi dapur yang telah panas, semakin dipanas-panasi agar si koki jadi cerai dengan sang istri.

Asap bakaran dapur juga jadi masalah. Sang lapar marah karena asap dari dapur si koki membuat rumahnya seperti kebakaran. Si koki bingung karena dimana-mana kalau masak pasti ada asapnya. Tapi sang lapar tidak mau tahu karena asap bukan urusannya. Yang menjadi urusannya cuma makanan dari dapur bukan asap dari dapur. Kalau si koki mau dibantu dengan asap maka si koki harus memberi makan gratis.

Jadi sekarang milih yang mana? Pura-pura percaya kalau kita makan untuk hidup atau mau jujur mengakui kalau kita itu hidup unutk makan!!!

Read More......

Thursday, May 24, 2007

MASA YANG INDAH

Belakangan ini aku sering memperhatikan anak-anak yang tinggal di komplek apartment tempat aku tinggal. Satu yang menyolok dalam perhatianku adalah anak-anak ini jarang bermain diluar komplek gedung, paling jauh mereka bermain hanya didepan gerbang komplek. Saat melihat anak-anak ini aku jadi teringat dengan anak-anak yang tinggal dilingungan rumahku.

Kalau ku bandingkan dengan masa kecilku, sangat jauh perbedaan antara masaku dan masa sekarang. Dulu disekitar lingkungan tempatku tinggal masih banyak terdapaty tanah kosong dan lapangan sehingga masih banyak tempat untuk kami saat itu untuk bermain sepuas-puasnya. Tapi sekarang disekitar tempat tinggalku sudah tidak ada lagi tempat untuk anak-anak untuk bermain bebas. Paling banter mereka cuma bermain di seputar rumah dan jalanan gang yang luasnya tidak seberapa. Sekarang lingkungan tempatku tinggal sudah dipenuhi dengan bangunan beton ruko bahkan hingga kedalam gang kecil. Kalau ku perhatikan lebih teliti lagi, sudah tidak ada lagi sejengkal tanah pun yang dapat terlihat, semua permukaan tanah di gang belakang rumahku sekarang telah ditutupi dengan lapisan semen.

Sekarang ini anak-anak yang ada dilingkungan tempatku tinggal lebih banyak dihibur dengan permainan elektronik seperti Play Station, Xbox dan permainan semacamnya. Jarang ada diantara mereka mengenal permainan yang dulu sering kami sebagai anak-anak sering mainkan. Dulu waktu aku masih kecil jarang ada teman yang memiliki permainan video game seperti itu yang pada masa itu didominasi oleh Spica dan Nintendo. Bahkan untuk televisi dulu tidak banyak pilihan karena memang waktu tiu yang ada cuma TVRI dan kalau ingin melihat acara TV lain yang biasanya stasiun TV Malaysia, seringnya kami harus memanjat pagar dan mengintip melalui jendela tetangga dari etnis Cina dan biasanya pasti diusir. Cuma ada satu orang tetangga yang dari etnis Cina itu yang biasanya mengizinkan kami untuk menonton TV dirumahnya, aku tidak tahu nama aslinya karena biasanya kami memanggilnya dengan Nyonya. Bahkan seringnya dia memanggil kami dan menyuguhkan makanan kecil.

Dan setiap raya Cina atau Cap Go Meh, Nyonya itu biasanya juga mengundang kami anak-anak untuk datang bertamu kerumahnya dan satu-dua diantara kami biasanya bakalan dapat angpau. Selain Nyonya itu ada juga salah seorang tetangga dari etnis Cina yang cukup baik hati terutama terhadap kami anak-anak, kami biasa memanggilnya dangan Nenek.

Dulu begitu banyak permainan yang bisa dibilang tradisional seperti Dompu, Alep Cendong atau ditempat lain mungkin dikenal sebagai Gobak Sodor, Alep Berondok atau Petak Umpet, Kuda Tunggang, Alep Buaya, Batalion, Engklek, Hompimpa dan banyak lagi permainan anak yang lain. Dari semua permainan itu aku paling malas kalau main Kuda Tunggang karena pasti aku jarang dikasih ikut bermain oleh kawan-kawan yang lain. Alasannya karena badanku terlalu gendut. Jadinya tidak ada yang bisa memanggulku keliling, yah nasibnya anak gendut, kadang jadi bos tapi kadang cuma bisa jadi penonton!

Kuda Tunggang biasanya dimainkan oleh dua kelompok dan salah seorang anak yang tidak masuk dalam kedua kelompok akan bertugas sebagai tiang, nah tugas ini yang biasanya boleh ku mainkan. Tiang bertugas sebagai tempat tumpuan kelompok yang mendapat gilirang menjadi kuda. Kelompok yang bertugas menjadi kuda akan membentuk barisan dengan membungkuk dengan saling memeluk pinggang orang yang ada didepannya. Diujung barisan adalah tiang. Kelompok yang menjadi penunggang akan melompat keatas punggung kuda sampai semua anggota kelompok dapat berada diatas punggung kuda. Setelah semua naik kepunggung kuda, penunggang pertama akan tanding suit dengan tiang. Jika kelompok penunggang kalah tanding suit atau terjatuh dari punggung kuda karena kesalahan sendiri maka sebagai hukumannya mereka akan gantian bertugas sebagai kuda. Namun jika kelompok yang menjadi kuda tidak dapat mempertahankan formasinya atau kelompok penunggang menang dalam tanding suit maka kelompok kuda harus memanggul para penunggang sampai jarak yang ditentukan.

Selain permainan-permainan anak tersebut banyak juga mainan yang tidak harus dibeli di toko mulai dari ikan laga, karet gelang, biji pohon karet, tembak-tembakan dari pelepah daun pisang, mobil-mobilan dari kaleng dan bilah bambu bahkan tempurung kelapa bisa menjadi banyak macam mainan mulai dari engrang sampai senter lilin.

Untuk mencari biji pohon karet yang biasa kami sebut dengan ‘para’ biasanya aku bersama teman-teman akan melakukan ‘ekspedisi’ kecil-kecilan. Jarak perkebunan karet yang terdekat dari tempat sekitar kurang lebih 15 km dari tempat tinggalku didaerah Marcapada. Kalau mencari biji karet di Kuala, kami harus menyisihkan sebagian uang jajan yang tak seberapa untuk ongkos bus karena tempatnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan mengendarai sepeda apalagi dengan berjalan kaki. Biasanya kami akan melakukan perjalanan ekspedisi itu pada akhir pekan atau hari libur sekolah. Kadang untuk menempuh jarak itu kami akan mengendarai sepeda namun lebih sering dengan berjalan kaki atau menumpang truk pengangkut galian C yang banyak lalu lalang ke arah perkebunan karet yang tak jauh dari sungai tempat truk-truk itu mengambil muatan.

Biasanya juga kami pasti membawa bekal untuk dijalan tapi biasanya aku yang kebagian tugas untuk bawa nasi karena mamakku punya kedai nasi jadi kalau masalah nasi bungkus gampang dapat. Dulu waktu kecil aku punya skopel atau tali pinggang kanvas tentara lengkap dengan velves tempat air pemberian abang sepupuku yang jadi polisi. Jadi lengkap dengan skopel, velves dan topi koboi loreng, aku jadinya seperti komandan yang memimpin pasukan kecil yang akan menyergap musuh, bukan berarti aku sok bos diantara teman-temanku yang lain namun memang badanku lebih besar dari yang lain.

Memang jarak yang dijempuh relatif jauh, namun tempat yang harus kami lalui masih asri dan indah jadinya tidak membosankan. Banyak juga sungai besar dan kecil yang kami lalui sehingga kalau badan gerah bisa berhenti untuk beristirahat dan membuka bekal dan diteruskan dengan mandi dan berenang disungai. Perjalanan melalui perladangan dan pematang sawah itu biasanya kami tempuh selama 3 hingga 4 jam karena sudah pasti lebih banyak berhentinya karena sang ‘komandan’ kecapekan membawa badannya yang besar.

Memang sebenarnya untuk mendapatkan biji karet atau ‘para’ itu tak perlu berjalan sejauh itu karena hampir di setiap sekolah dasar setiap musim ‘para’ banyak orang yang menjual diluar pagar sekolah. Namun harganya bisa sangat mahal untuk ukuran anak-anak waktu itu. Untuk ‘para’ dengan kualitas biasa harganya bisa Rp 25,- atau Doplim, yang sedang sekitar Limpol atau Rp 50,- dan yang paling bagus bisa sampai Rp 100,- hingga Rp 200,-. Mungkin untuk anak-anak zaman sekarang ini uang segitu tak ada artinya dan bahkan mungkin mereka tidak pernah memegang uang dengan pecahan sekecil Rp 25,- tapi untuk masa itu uang Doplim bisa untuk beli kerupuk atau es boks satu.

Terkadang kalau melihat anak-anak zaman sekarang, aku merasa kasian juga. Memang kayaknya anak-anak zaman sekarang terutama yang hidup diperkotaan tampak lebih bersih dan sangat terurus namun kalau diperhatikan lebih baik kebanyakan kulitnya pucat karena jarang terkena sinar matahari, beda dengan anak-anak zamanku dan yang sebelumku, walaupun dengan baju sedikit koyak dan kulit hitam terpanggang matahari namun bersinar sehat.

Banyak lagi yang bisa ku ceritakan tentang masa kecilku bersama teman-teman. Bagaimana petualangan kami ke sawah-sawah atau rawa-rawa untuk mencari ikan laga, di kejar-kejar Wak Amat tukang kebun Wak Hamid karena ketahuan mencuri kuini, asyiknya mandi dan berenang di sungai Bingai sambil membuat bola pasir untuk diadu, bagaimana takutnya lari tunggang langgang dikejar anjing Pak Aheng atau Bu Elis, bagaimana harus lari menyelamatkan diri dari kejaran Wak Fozi karena ketahuan menebangi pohon pisang dikebunnya untuk dibuat rakit, dan banyak lagi. Mungkin lain waktu akan ku ceritakan lagi petualangan-petualangan masa kecilku yang tak kalah seru dari kisah detektif-detektif cilik Enyd Blyton. Namun saat ini sampai disini dulu.

Read More......

Saturday, May 19, 2007

TULISAN

Bayangkan dunia tanpa tulisan. Pastilah yang pertama terlintas adalah dunia di masa pra sejarah karaena kata pra sejarah sendiri mengacu pada dunia atau peradaban tanpa tulisan, tanpa catatan jelas akan kehidupan manusia di masa itu.

Banyak teori mengenai sistem penulisan pertama di dunia namun konvensi dari banyak ahli, sistem penulisan Cuneiform pada peradaban Sumeria atau dikenal juga sebagai peradaban Lembah Indus/Mesopotamia. Dari pengukuran umur karbon terhadap kepingan gerabah yang ditulisi dengan simbol-simbol Cuneiform, ditemukan bahwa sistem penulisan ini sudah berumur lebih dari 5000 tahun.

Memang ada sistem penulisan yang berumur lebih tua seperti sistem penulisan Cina kuno yang ditemukan pada tahun 2003 di wilayah Jihau, Hunan. Sistem penulisan ini berumur sekitar 8000 tahun atau telah ada sejak tahun 6000 SM. Namun sistem ini masih dianggap belum memadai untuk dikategorikan sebagai sistem penulisan yang memiliki struktur ketat. Seperti umumnya sistem penulisan kuno lainnya, simbol yang digunakan dalm sistem penulisan Jihau masih berupa simbol logografik dimana bahasa bahasa disimbolkan dengan gambardari alam sekitar.

Satu bukti yang sangat menarik adalah sistem penulisan selalu berkembang sejalan dengan perkembangan suatu peradaban, terlepas dari adanya hubungan dengan peradaban yang lain. Sebagai contoh, terdapat juga sistem penulisan di benua Amerika dimana baru sampai abad ke 15 baru memiliki hubungan dengan peradaban dari dunia lain.

Jadi apa yang mendasari penciptaan sistem penulisan dalam suatu peradaban?

Saat manusia mulai keluar dari gua dan mulai dihidup di dunia luar, anggota kelompok masyarakat juga bertambah seiring dengan kebutuhan untuk melindungi diri baik dari serangan binatang buas maupun kelompok masyarakat yang lain. Anggota somah yang pada awalnya hanya berdasarkan ikatan darah meluas dengan meningkatnya jumlah anggota masyarakat ini. Pada masa inilah manusia mulai mengenal dan mengembangkan teknologi pertanian dan peternakan.
Cara hidup mulai berubah dari hanya mengumpulkan apa yang dihasilkan alam dengan manipulasi lingkungan untuk menghasilkan bahan kebutuhan anggota masyarakat. Pada masa ini juga manusia mulai mengenal adanya kepemilikan pribadi atas barang materi.
Cara hidup dengan kelompok yang besar juga membutuhkan adanya aturan diantara anggota masyarakatnya sendiri. Terutama aturan mengenai tanggung jawab setiap anggota masyarakat dan aturan kepemilikan barang materi. Sebelum adanya tulisan beberapa dari anggota masyarakat memiliki tugas untuk menghafal semua aturan. Lebih dari itu mereka juga bertugas untuk menghafal silsilah keluarga dalam masyarakat. Kebiasaan ini sampai saat ini masih dapat ditemui pada beberapa suku pengembara di benua Afrika dimana sistem budayanya bersandar sepenuhnya dari memori anggota suku.

Namun permasalahan mulai muncul saat anggota masyarakat semakin bertambah banyak dan orang-orang yang bertugas sebagai penghafal meninggal dunia tanpa sempat untuk mewariskan pengetahuannya kepada penerus. Banyak dari aturan dan traktat dalam masyrakat hilang bersama para penghafalnya.

Beberapa dari anggota masyarakat mulai menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan catatan-catatan terutama yang berhubungan dengan perdagangan. Penggunaan simbol-simbol ini semakin luas saat kebutuhan untuk mencatat setiap perkembangan dalam masyarakat semakin meluas. Dan simbol yang pada awalnya menggambarkan benda dari lingkungan sekitar berkembang dan berubah menjadi lambang-lambang abstrak. Dan lambang-lambang abstrak inilah yang kemudian berkembang sebagaia apa yang kita kenal sebagai sistem alfabet moderen.

NOTHING CAN EVER BE AS SHOCKING AS LIFE. EXCEPT WRITING.
Ibn Zerhani
(The Black Book, Orhan Pamuk)

Read More......

Friday, May 18, 2007

MALAM PANJANG

Aku ingat lagi terhadap gempa yang terbesar yang pernah kurasakan seumur hidupku. 8.7 skala Richter! Bayangkan! Bukan gempa Desember 2004 tapi gempa Maret 2005 atau gampa Nias.

Kalau ku pikir-pikir lagi, gak habis pikir juga. Dari aku lahir sampai aku berumur 24, seingatku, aku hanya pernah merasakan dua kali gempa. Yang pertama saat aku duduk dibangku kelas 6 SD. Dan karena gempa yang ini aku sempat dihukum berdiri di depan kelas oleh guruku.

Ceritanya, sehari setelah gempa itu, aku sempat memicu kepanikan disekolah karena kejahilanku. Pada hari gempa, aku dan beberapa teman sempat memperhatikan kalau kebanyakan teman sekelas yang cewek pada menjerit-jerit karena takut dan kemudian semua murid dipulangkan. Kebetulan keesokan harinya kelasku akan melaksanakan ulangan dan aku belum belajar dan aku belum sempat belajar jadinya aku malas kalau ada ulangan hari itu.
Jadi aku dan beberapa teman sepakat untuk pura-pura merasakan gempa. Beberapa saat sebelum ulangan dimulai, aku dan teman sekomplotan, sekonyong-konyong lari sambil berteriak-teriak, “gempa, gempa!” dan sontak semua kelas yang mendengar ikut-ikutan lari terbirit-birit kocar kacir. Sialnya, salah seorang teman sekelasku terjatuh dan sempat terinjak-injak. Untunglah dia tidak sempat luka parah cuma shock berat sampai tak berani sekolah untuk beberapa lama. Setelah diusut-usut, ketahuan kalau dalangnya itu aku dan jadilah aku kena hukuman dari guru.

Gempa yang kedua terjadi beberapa bulan setelah itu dan aku ingat kejadiannya hari minggu karena seingatku aku tidak sekolah hari itu. Dan karena gempa itu aku sempat lari terbirit-birit telanjang bulat. Memang waktu gempa, aku lagi mandi pagi di sumur dan karena gempa itu ring sumur di rumahku jadi runtuh. Untung waktu itu masih SD jadi belum terlalu malu kalau lari-lari telanjang bulat kalau sudah lebih besar kan malu!

Itu dua gempa yang pernah kurasakan selama kurang lebih 24 tahun. Tapi dari Desember 2004 hingga Mei 2005, aku tidak tahu pasti berapa banyak gempa yang kurasakan. Yang terbesar dan tak bakalan kulupakan seumur hidup mungkin yang terjadi pada Maret 2005 mungkin dikarenakan gempa ini, aku bisa dikategorikan sebagai pengungsi.

Aku ingat kejadiannya malam sekitar jam 11 dan aku dan beberapa teman baru selesai main dam batu. Malam itu kami memang sedang mengadakan acara makan malam bersama karena memang seharusnya keesokan harinya aku dan beberapa teman akan kembali ke Medan karena kontrak kami bersama MSF-Ch telah selesai.

Jadi ceritanya kami sedang beberes karena memang acara untuk malam itu telah selesai tapi tak ada satupun yang menduga kalau kami akan mendapatkan acara tambahan. Pertama yang terasa oleh semua cuma getaran pelan. Roni teman sekantorku sempat bilang untuk tenang karena memang di Pulau Simeulue tempat ku berkerja sering terjadi gempa-gempa kecil sejak kejadian tsunami karena pulau itu merupan daratan yang terdekat dengan episentrum gempa Desember 2004. Jadi semuanya tidak begitu memperhatikan getaran itu namun getarannya semakin lama semakin keras dengan suara bergemuruh. Suara yang disebabkan gempa itu terdengar seperti peasawat jet yang akan lepas landas. Sontak semua yang ada dirumah tempat kami tinggal berusaha untuk lari keluar rumah. Kalau aku tak salah ingat ada sekitar sembilan atau sepuluh orang semuanya.

Yang lain berlari menuju pintu depan sedangkan kau dan bang Muzakir, salah seorang teman sekerja lari kearah pintu belakang. Jujur, sampai sekarang aku belum mengerti juga kenapa pada saat kejadian itu aku masih dapat berpikir jernih. Saat aku melihat yang lain berlari ke pintu depan, langsung aku berpikir bahwa akan ada ‘antrian’ dipintu dan ada kemungkinan tidak semua akan bisa keluar dengan cepat. Pintu belakang juga berjarak lebih dekat daripada pintu depan karena memang pada saat getaran gempa itu terasa kebanyakkan dari kami sedang berada di ruang belakang. Jadilah aku berlari kearah pintu belakang sambil berteriak ke bang Muzakir untuk ikut berlari kearah pintu belakang.

Gempa itu terjadi sangat cepat kurang dari 15 detik tapi kejadiannya terasa sangat lama. Saat aku berlari ke pintu belakang, pertama aku berlari ke arah menara penampung air tapi aku sempat berpikir kalau menara dari kayu itu tumbang dengan bak berbobot berat bisa jadi peyek aku kalau ketimpa. Terus saat aku akan berlari ke pohon kelapa, terpikir juga bagaimana kalau kelapanya ada yang jatuh, kan lumayan kalau menimpa kepala. Jadilah dengan bersusah payah aku berlari kearah tiang jemuran baju. Bang Muzakir terus berlari keluar dari pintu gerbang belakang. Dia sempat berteriak memanggil-manggilku untuk iktu berlari kearahnya tapi aku takut kalau ada tsunami yang datang karena memang kalau kita keluar dari gerbang belakang rumah itu pasti akan langsung berada dipantai.

Pertama yang kulakukan adalah memeluk kuat tiang jemuran itu. Getaran gempanya terasa sangat kuat. Gerakan pertama yang kurasakan seakan bumi bergerak ke kiri dan ke kanan. Kemudian bumi seakan berputar melingkar dan dihentakkan keatas dan kebawah. Lumayan juga, kepalaku sempat terantuk-antuk ke tiang jemuran, untungnya gak sempat benjol.
Setelah getaran gempa itu mereda baru aku sadar bahwa begitu kami keluar dari pintu rumah, setengah dari bangunan rumah itu telah runtuh. Terdengar dari depan suara teman-teman yang telah keluar dari pintu depan memanggil-manggilaku dan bang Muzakir. Mungkin mereka mengira kalau kami berdua telah terkubur reruntuhan rumah karena mereka tidak melihat kami keluar bersama mereka. Sambil meraba jalan aku dan bang Muzakir mencari jalan diantara reruntuhan rumah denga takut-takut terpijak paku atau pecahan kayu karena saat berlari keluar rumah tak satupun diantara kami semua yang ingat untuk mencari alas kaki.
Begitu mencapai bagian depan rumah dan berkumpul kembali dengan teman-teman, kami berembuk untuk menentukan langkah berikutnya. Alhamdullillah, semuanya selamat. Bang Beni dan Roni memutuskan untuk pergi kearah pantai untuk melihat apakah air pantai surut. Jika air di pantai surut itu merupakan tanda kalau tsunami akan datang. Aku, Rizal, bang Muzakir dan Marieane, perawat berkebangsaan Perancis akan menunggu Bang Beni dan Roni dikaki bukit depan rumah dan jika air dipantai terlihat surut kami akan bergegas mengungsi keatas bukit. Aku awalnya ingin ikut dengan mereka ke pantai tapi mereka melarang dengan alasan kalau ada apa-apa sulit bagiku untuk lari karena badanku kegendutan. Teman-teman yang lain yang merupakan penduduk setempat kembali kerumah masing-masing untuk melihat keadaan keluarga mereka.

Mungkin ada ratusan orang yang berjubel dijalan setapak keatas bukit karena semua orang takut akan terjadi tsunami. Rizal dengan paniknya berusaha menarik Marieane untuk naik keatas bukit namun perawat Perancis itu menolak sebelum Bang Beni dan Roni kembali dari pantai. Rizal terlihat sangat panik dan gelisah, bang Muzakir cuma diam dengan pucat tapi terlihat dari matanya kalau dia sangat ketakutan. Bagaimana dengan kondisiku saat itu? Jujur aku merasa sangat lepas, mungkin karena pengaruh adrenalin. Orang yang sering melakukan olah raga ekstrim pasti akan paham bagaimana rasanya saat adrenalin kita dipacu. Jadi bawaannya mau ketawa terus.

Bang Beni dan Roni kembali dari pantai dan mereka tidak melihat kalau air dipantai surut, jadi kemungkinan besar tidak akan ada tsunami. Kami memutuskan untuk tidak mengungsi ke bbukit tapi pergi ke rumah yang satu lagi yang ditempati staff internasional MSF-Ch untuk melihat bagaiman kondisi disana. Sebagai staff lokal, keselamatan para expat tersebut menjadi sebagian dari tanggung jawab kami.

Namun sebelum kesana bang Muzakir memaksa untuk kembali kerumah untuk mengambil kopernya. Awalnya kami menolak tapi dia tetap memaksa. Mungkin banyak barang berharganya. Jadilah akhirnya sambil menggotong kopernya bang Muzakir berjalan mengikuti rombongan kecil kami dari belakang. Sesampai ke rumah para expat itu yang kami sebut dengan rumah biru karena memang dindingnya di cat biru langit, terlihat kalau rumah itu tidak mengalami kerusakan parah. Untuk sementara kami tinggal dirumah itu.
Ada yang agak lucu saat kami berjalan ke rumah biru. Ceritanya malam itu ada acara pernikahan tidak jauh dari rumah biru. Saat kami melewati tempat pesta itu terlihat kedua pengantinnya berdiri dipinggir jalan dengan masih menggunakan pakaian pengantin yang belum terkancing dengan benar. Mungkin baru mau malam pertama, malah terkena gempa. Gagallah acara malam pertamanya.

Tak lama teman-teman dari PMI datang dan meminta bantuan karena di wilayah kota banyak bangunan yang runtuh dan ada beberapa orang yang terkubur dibawah bangunan itu dan kebanyakan orang telah mengungsi ke bukit sehingga PMI kekurangan orang untuk mengevakuasi korban. Jadi kami ikut membantu untuk mencari korban yang tertimpa bangunan yang runtuh itu. Padahal aku cuma menggunakan sarung karena saat lari keluar dari rumah, aku lupa untuk memakai celana dan semua pakaianku saat itu telah terkubur dibawah reruntuhan rumah yang kami tempati. Untung pakai sempak, kalau tidak kan kasihan orang yang berada dibawahku saat memanjat reruntuhan itu, bisa lihat pemandangan yang bisa dianggap indah atau buruk!

Jujur aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu orang-orang yang tertimbun reruntuhan itu karena memang aku tidak punya kemampuan yang memadai dalam bidang evakuasi dan kurangnya keberanian. Jadi setelah banyak yang datang membantu aku segera turun dan membiarkan mereka bekerja. Daripada malah jadi kerjaan untuk yang lain lebih baik aku mundur saja. Kalau tak salah total ada sekitar 23 orang yang menjadi korban di seluruh pulau Simeulue.

Mungkin malam itu merupakan malam yang terpanjang yang pernah kualami seumur hidupku.

Read More......

Thursday, May 17, 2007

UNIK

Apakah ada yang dua hal di dunia ini yang benar-benar sama satu sama lainnya? Mungkin banyak yang akan menjawab ada namun aku yakin lebih banyak lagi yang akan menjawab tidak. Memang jika kita telaah secara mendetail takan ada dua hal atau benda yang ada di dunia ini yang benar-benar identik. Bahkan dengan peralatan yang paling canggih sedunia pasti ada perbedaan atas produk yang dihasilkannya. Mungkin dipermukaan kita takkan bisa menemukan perbedaan-perbedaan tersebut namun secara mikroskopik perbedaan itu pasti ada.

Itu untuk benda materiil, bagaimana dengan hal-hal yang manusiawi? Terhadap manusia, perbedaan antara yang satu dengan lainnya kan sangat kentara karena memang tidak ada manusia tang seratus persen identik dengan yang lain. Bahkan dua orang anak kembar yang berasal dari satu indung telur, tidak akan seratus persen sama.
Satu contoh yang paling mencolok dalam diri manusia adalah sidik jari. Sejak ditemukannya keunikan sidik jari diakhir abad 19, sidik jari menjadi alat utama untuk mengidentifikasi setiap individu dalam berbagai bidang.

Untuk pemikiran manusia itu unik antara satu dengan lainnya. Sebagai salah satu pembeda antara manusia dan binatang adalah kemampuan manusia untuk berpikir secara logis. Jika binatang lebih dituntun oleh instingnya sedangkan manusia dalam setiap keputusan yang dibuat hampir selalu dilandasi oleh pemikiran logis. Karena kemampuan untuk berpikir logis inilah kita semakin jauh dari binatang. Manusia mampu untuk menciptakan instrumen-instrumen bantu untuk memudahkan pekerjaannya. Mungkin sebagian binatang memiliki kemampuan untuk menggunakan instrumen sabagai alat bantu. Namun penggunaannya sangtatlah primitif.

Kemampuan manusia untuk menggunakan bahasa untuk berkomunikasi juga merupakan pembeda antara manusia dengan binatang. Namun secara phisiologis kemampuan untuk menggunakan bahasa ini juga membatasi kemampuan manusia untuk mengunakan fisiknya secara maksimal. Karena bahasa, manusia harus memaksimalkan penggunakan otak bagian kiri yang mengatur kemampuan logis, namun disatu sisi otak bagian kiri juga mengatur pergerakan fisik tubuh bagian kanan sehingga kebanyakan manusia lebih banyak menggunakan tangan kanannya dibandingkan tangan kiri. Sedangkan pada binatang terutama dari bangsa primata yang menurut Darwin merupakan ‘saudara tua’, pembagian fungsi otak ini tidak begitu dominan sehingga binatang memiliki kemampuan yang setara dalam penggunaan kedua bagian tubuhnya.

Kembali ke masalah pemikiran. Dari masa ke masa begitu banyak usaha untuk membuat pemikiran manusia menjadi satu dengan menghilangkan perbedaan pendapat di dalam anggota masyarakat. Terutama dalam masyarakat yang dipimpin secara otoriter. Dalam masyarakat ini, penguasa selalu berusaha untuk menyelaraskan pemikiran masyarakatnya sesuai dengan kebijakan penguasa.

Namun setiap usaha untuk menyelaraskan pemikiran ini selalu mendapatkan perlawanan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Ada kalanya perlawanan ini akan menjadi pemenang namun ada kalanya juga perlawanan ini akan tenggelam dan terlindas. Segala usaha untuk mengajukan sesuatu yang baru kedalam struktur yang telah mapan baik secara waktu dan pengaruh merupakan usaha yang memerlukan daya yang sangat besar.

Empat ratus tahun yang lalu Copernicus mengajukan teori matahari sebagai pusat tata surya untuk mendekonstruksi teori lama yang menganggap bumi sebagai pusat tata surya. Usahanya itu mendapatkan kecaman yang luas baik dari masyarakat umum maupun kalangan cendikiawan. Perlawanan yang terbesar datang dari kalangan gereja yang memegang kekuasaan mutlak atas perkembangan pemikiran pada masa itu.

Seabad yang lalu, Einstein mengajukan teori Relativitas yang mendobrak anggapan umum tentang alam semesta. Teori Einstein yang mencoba membedah pengaruh gravitasi terhadap ruang dan waktu. Bagaimana ruang dan waktu dapat mengembang dan menciut sesuai dengan daya gravitasi yang mempengaruhinya merubah cara pandang kita terhadap alam semesta. Teori Newton yang menjadi landasan bagi setiap teori yang berhubungan massa materi selama ratusan tahun menjadi seperti kehilangan kharismanya saat berhadapan dengan teori Relativitas Einstein.

Dalam dekade 40an dan 50an, Alfred Kinsey mendobrak tabu lama yang menganggap bahwa diskursus mengaenai seks seharusnya tetap berada di luar ruang publik. Dengan dua bukunya, ‘Sexual Behavior in the Human Male’ (1948) dan ‘Sexual Behavior in the Human Female’ (1953) yang terkenal juga sebagai Kinsley’s Report, menjadi best seller, anggapan lama kehilangan cengkeramannya. Banyak yang beranggapan bahwa penelitian Kinsley tersebutlah yang memicu munculnya Sexual Revolution di era 60an walaupun ia sendiri tidak merasakan dan melihat revolusi ini.

Dan di era 60an, Derrida mengajegkan istilah ‘dekonstruksi’ yang pada akhirnya menjungkir balik semua tatanan pemikiran lama. Dimana ikatan terhadap struktur lama akan selalu dipertanyakan dan didesain ulang demi mendapatkan kebenaran dan menjaga adanya kebebasan dalam mentelaah dan membedah segala topik baik dalam tingkatan philosopis hingga tingkatan praktis.

Dan saat ini, dengan tulisan ini apa yang ingin ku dobrak dari tatanan yang telah mapan dan diterima umum? Kalau boleh jujur... TIDAK ADA! Alasan yang utama ungkin karena aku ingin menulis dan tidak punya bahan yang pasti. Nah, disitu juga letak perbedaan antara manusia yang satu dengan lainnya. Mungkin untuk manusia yang lain segala perbuatan dan karya haruslah memiliki alasan yang scientifik atau dalam bahasa kasarnya ‘mentereng’. Tapi tidak untukku, terutama untuk tulisan yang satu ini. Dan sekali lagi alasan utamanya lebih untuk menulis tanpa embel-embel lainnya. Terserah untuk yang membaca. Karena dalam setiap hal selalu ada perbedaan serta pro dan kontra. Jadi pilih yang mana? PRO atau KONTRA!

Read More......

Wednesday, May 09, 2007

UNTUNG ADA TSUNAMI



Selama aku berada di India, dalam setiap pembicaraan dengan setiap orang yang tahu aku berasal dari Indonesia pasti pertanyaan pertamanya tentang gempa dan Tsunami. Memang kejadian bencana Tsunami 26 Desember 2004 yang diluar Indonesia banyak dikenal dengan ‘Boxing Day Tsunami’, sedikit banyak dalam anggapanku seperti bencana membawa berkah atau dalam bahasanya Tante Elizabeth ‘blessing in disguise’. Mungkin sekilas seperti kurang ajar anggapanku itu tapi coba kita pikirkan lagi.




Ok ...! ribuan orang yang menjadi korban. Banyak anak menjadi yatim piatu juga orang tua kehilangan anak. Istri kehilangan suami atau sebaliknya. Banyak keluarga yang terpecah belah dan mungkin sampai sekarang belum bertemu juga. Harta benda yang lenyap dengan harga yang membubung ke langit dan sebagainya dan sebagainya.



Tapi kita sebagai orang Indonesia — bukan warga Indonesia tapi orang yang dibesarkan dan hidup dalam lingkungan budaya Indonesia — pasti paham akan filosofi ‘untung’. Dalam setiap keadaan dan kejadian, orang Indonesia selalu memandang segala hal dari segi positifnya. Ambil contoh, kalau ada kecelakaan dan sang korban menjadi cacat, orang Indonesia pasti banyak bilang “untung gak sampai meninggal” atau kalau sang korban meninggal dunia, komentarnya pasti beda, “untung meninggalnya cepat jadi gak sampai menderita. Kalau cacat, kan, kasihan keluarganya capek ngurusin.”



Nah, dari contoh itu kita bisa melihat bahwa setiap cobaan untuk orang Indonesia pasti membawa keuntungan, kalau gak ini pasti itu. Mungkin kalau diadakan survei mengenai bangsa mana yang paling memiliki sifat optimis, aku yakin 110% kalau bangsa Indonesia menduduki peringkat pertama.



Ok, balik ke soal tsunami. Segi negatifnya pastilah banyaknya korban jiwa dan harta. Mari kita lihat sisi ‘untung’nya.



Untuk Aceh. Pra-tsunami adalah masa-masa yang penuh derita bagi saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah Daerah Istimewa Aceh yang kemudian berganti nama dengan Nanggroe Atjeh Darussalam. Mulai dari masa penjajahan Belanda diikuti pemberontakan DI/TII tahun 50-60an yang dipimpin Daud Beurueh. Kemudian pemberontakan sisa-sisa pengikut Daud Beurueh yang kemudian diangkat menjadi Gubernur Provinsi DI Aceh. Pemberontakan ini diikuti dengan Operasi Jaring Merah oleh militer dimulai tahun 1989 hingga 1998 dan dilegalkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer dengan penerapan hukum perang sampai terjadinya tsunami. Jadi dari masa ke masa orang Indonesia yang tinggal di Aceh selalu hidup di medan perang dengan korban yang jauh lebih banyak daripada jumlah total korban tsunami 2004.


Sebelum bencana tsunami datang memang telah banyak dilakukan perundingan antara pemerintah RI dan perwakilan GAM, baik dilakukan didalam dan luar negeri. Telah banyak dikirim berbagai tim pemantau luar negeri untuk mengawasi berjalannya perjanjian gencatan senjata. Tapi pada akhirnya, perjanjian tinggal perjanjian. Bencana tsunami datang dan sepertinya semua pihak mengganggap itu sebagai momentum tepat untuk berdamai. Mungkin karena semua pihak menganggap Tuhan telah murka atau pihak RI takut dikecam Internasional kalau dalam kondisi bencana masih sibuk mengejar-ngejar GAM atau juga karena pihak GAM sudah kehabisan asupan logistik karena bencana. Yah, alasan yang pasti cuma Tuhan, Pemerintah RI dan GAM yang tahu. Dan untuk saat ini hasil akhir perjanjian damai ini yang paling signifikan mungkin adalah terpilihnya tokoh GAM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NAD. Dan mungkin pasangan ini merupakan satu-satunya Gubernur-Wakil Gubernur untuk seluruh Indonesia yang bukan berasal murni dari partai peserta Pemilou nasional.



Jadi orang Indonesia yang tinggal di Aceh bisa bilang, “untung ada tsunami kalau tidak perang jalan terus”. Yang GAM bisa bilang, “untung ada tsunami, walau gak bisa merdeka minimal Gubernur ditangan”.



Tingkat nasional. Untuk tingkat nasional, ada juga ‘untung’nya. Setelah bencana tsunami, pemerintah Indonesia banyak mendapatkan bantuan berupa dana dan barang logistik. Memang, tidak semua dana yang masuk merupakan uang gratis. Sebagian berbentuk hutang lunak. Yah, paling tidak bunganya kecil dan waktu pembayarannya panjang. Dengan dana bantuan tersebut, pemerintah bisa membangun ulang wilayah yang dihancurkan tsunami. Atau dengan sebagian dana tersebut! Karena sebagian dana itu pasti dialihkan ke proyek-proyek yang lain dan juga ke ‘proyek-proyek pribadi’. Nah, itu untuk urusan finansial, jadi walaupun ada banyak yang kehilangan nyawa dan hartanya tapi banyak juga yang mendapatkan harta baru.



Untuk bapak-bapak yang terhormat, bencana tsunami juga membawa berkah karena paling tidak untuk beberapa saat mereka bisa tidur tenang. Kasus-kasus yang melanda mereka baik secara pribadi maupun institusi agak tergusur dari berita utama karena semua media sibuk dengan liputan dan laporan mengenai bencana tsunami. Walaupun cuma beberapa saat tapi itu mungkin cukup bagi mereka untuk mem-persiapkan pembelaan diri ataupun menghilangkan bukti.



Ada satu lagi ‘untung’ yang tidak cuma mengurangi permasalahan bagi pemerintah tapi juga untuk orang banyak termasuk diriku sendiri yaitu masalah pekerjaan. Dengan adanya bencana tsunami, ada begitu banyak organisasi, baik dalam dan luar negeri, benaran atau fiktif, yang mengkoordinir bantuan barang, uang, dan tenaga relawan.



Nah, dengan banyaknya organisasi-organisasi ini, banyak juga tenaga kerja yang terserap termasuk aku sendiri. Aku sempat bekerja dengan salah satu organisasi luar negeri di wilayah pulau Simeulue. Aku kurang setuju dengan istilah ‘tenaga relawan’ karena dari yang ku ketahui, tidak ada satupun dari organisasi-organisasi itu yang tidak menggaji ‘relawan’nya. Kata ‘relawan’ itu kan, mengindikasikan melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa ada harapan atas imbalan berbentuk apapun. Dengan ada gaji berarti mendapatkan penghasilan sebagai tenaga kerja dan angka pengangguran nasional pasti berkurang karena ada ribuan orang yang bekerja untuk organisasi-organisasi tersebut.



Jadi setelah tsunami, pemerintah bisa bilang “untung ada tsunami jadi defisit anggaran tahun ini bisa sedikit tertutupi”. Para koruptor bisa bilang “untung ada tsunami, tabungan semakin gemuk”. Bapak-bapak yang terhormat bisa bilang “untung ada tsunami jadi wartawan gak banyak ngejar-ngejar dan aku bisa tidur tenang dengan istri tercinta”. Para pengangguran bisa bilang “untung ada tsunami aku dapat kerja”.



Kalau melihat judul program disalah satu stasiun TV saat itu, ‘Indonesia Menangis’, jadi agak ironis juga. Karena mungkin banyak yang menangis karena tsunami tapi pasti banyak juga yang tersenyum kalau tidak tertawa. Karena satu bencana, jadi banyak soal yang kalau tidak terpecahkan minimal bisa dikurangi.



Jika ditanya aku termasuk dalam kelompok yang mana? Yang menangis atau yang tertawa? Kalau boleh jujur mungkin aku termasuk kelompok yang tersenyum kecil karena aku tak berani untuk tersenyum lebar apalagi tertawa nanti makin dianggap kurang ajar karena bisa bilang “untung ada tsunami ....”.



Oh iya, ada satu lagi. Pernah ku baca di koran setelah tsunami bahwa diusulkan kalau kata ‘tsunami’yang berasal dari bahasa Jepang dengan arti ‘angin dewa’ diganti dengan kata ‘smong’ yang berasal dari bahasa Simeulue dengan arti denotasinya aku kurang tahu. Dan mana tahu dimasa depan kata ‘smong’ bisa menjadi sumbangan bahasa asli Indonesia ke bahasa asing sehingga bahasa Indonesia tidak cuma menyumbang kata ’amok’ yang terlalu berkonotasi negatif.



“Untung ada tsunami jadi bahasa Indonesia bisa nambah satu kosakata lagi!!!”.

Read More......

Sunday, April 29, 2007

MISKIN



Nah, dimana-mana di negara yang di kategorikan sebagai dunia ketiga, yang petama menjadi perhatian pastilah kemiskinan. Kalo di Indonesia, jangan ditanya, pasti kita semua tahu bagaimana keadaan ekonomi yang walaupun menurut para ahli dan empu, kondisi ekonomi makronya telah jauh membaik sejak kejatuhan ekonomi tahun 98 namun kondisi ekonomi mikro Indonesia masih stagnan.

Walaupun nilai tukar rupiah masih membubung tinggi kurang lebih 250% dari nilai tukar sebelum krisis ekonomi, namun dari nilai suku bunga bank dan nilai indeks pasar saham dapat dilihat adanya pergerakan positif. Tapi jika lihat lebih dalam di keadaan umum masyarakat, kemiskinan masih meraja lela. Jumlah anak putus sekolah masih berada diatas rata-rata dari sebelum tahun 98 dan juga angka pengangguran baik pengangguran nyata maupun terselubung.


Kalau kita berkeliling sepanjang jalan kota-kota besar di Indonesia, dapat dipastikan bahwa banyak kita dapati anak-anak yang berkeliaran di sekitar persimpangan jalan maupun lampu merah. Tapi jangan salah, anak-anak itu bukanlah anggota pramuka yang sedang bakti sosial menjual stiker atau lainnya tapi mereka adalah anak-anak yang dikategorikan sebagai anak jalanan. Definisi anak jalanan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah anak-anak dibawah umur 18 tahun yang tinggal dan mencari nafkah dijalanan.


Fenomena anak jalanan sekarang ini menjadi salah satu permasalahan sosial utama di masyarakat. Umum diketahui bahwa kebanyakan anak-anak yang hidup dijalanan dikarenakan masalah ekonomi. Tapi tidak dapat dikesampingkan adanya tren didalam dunia remaja sendiri untuk menjalani kehidupan dijalanan. Dari obrolan yang pernah ku lakukan dengan beberapa anak jalanan yang sempat ku kenal di Medan, sebagian dari mereka datang bukan dari keluarga tidak mampu ataupun keluarga yang tidak bahagia. Sebagian mereka datang dari keluarga ekonomi menengah keatas dan keluarga bahagia. Alasan mereka untuk tinggal dan hidup dijalanan karena ada tren diantara mereka bahwa kalau tidak pernah turun kejalan pastinya dianggap sebagai anak lemah atau anak mama dan tidak keren. Mungkin faktor ekonomi adalah faktor utama tapi faktor yang diatas itu pun tidak dapat dikesampingkan.


Anak-anak ini sangat rentan akan kekerasan fisik dan seksual. Kehidupan dijalanan bukanlah kehidupan yang menyajikan surga maupun kesenangan bagi anak-anak ini. Mungkin masih segar diingatan kita tentang kasus pelecehan seksual yang dialami anak jalanan yang tinggal di salah satu rumah singgah di wilayah Jakarta. Kasus ini melibatkan seorang pengajar relawan berkebangsaan Australia. Kasus ini hanya puncak dari gunung es kekerasan tehadap anak jalanan.


Masih banyak kasus yang tidak diketahui karena memang tidak pernah dilaporkan. Dan juga walaupun sudah ada departemen khusus di kepolisian Indonesia yang menangani kekerasan terhadap permpuan dan anak – Ruang Pelayanan Khusus (RPK) – namun umum kita ketahui bahwa kebiasaan korupsi di tubuh kepolisian kita belumlah hilang seratus persen sehingga kasus-kasus yang berhubungan dengan anak jalanan banyak yang di”peti es”kan.

Kenapa ditulisan ini aku bicara tentang anak jalanan. Mungkin karena malam ini aku melihat anak jalanan di India. Ini bukan yang pertama kali aku melihat mereka tapi ini yang pertama kali aku sempat untuk mengambil gambar mereka. Kalau kita berjalan-jalan di kota besar di India, kita akan melihat kalau bukan kondisi yang lebih parah, paling tidak sama dengan di Indonesia. Jumlah gelandang dan pengemis di India lebih banyak daripada yang terdapat di Indonesia baik dalam persentase per populasi dan jumlah. Jumlah penduduk India yang hidup dibawah garis kemiskinan di India berada dikisaran 25% dari total jumlah penduduk sedangkan Indonesia memiliki 17.8% per populasi jumlah penduduknya yang hidup dibawah garis kemiskinan (CIA World Fact Book 2006).


Permasalahannya bukan hanya terbatas karena permasalahan ekonomi. Aku sempat bertukar pikiran dengan salah seorang teman berkebangsaan India tentang kenapa angka kemiskinan di India begitu tinggi sedangkan secara ekonomi, India berada didepan paling tidak diantara negara-negara Asia. Kemiskinan di India lebih dikarenakan sistem sosial yang berlaku di masyarakatnya sendiri.


Sistem kasta yang berlaku bagi penganut Hindu yang merupakan 80% dari jumlah total populasi India menjadikan pembatas bagi sebagian dari penganut agama ini yang tergolong diluar sistem kasta atau kaum Dalit dan juga dari suku-suku yang terdapat di bagian Timur Laut India yang berbatasan dengan China dan Myanmar untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Karena adanya batasan ini, banyak dari anggota golongan-golongan ini yang berada dalam kemiskinan absolut. Perbandingan angka buta huruf antara Indonesia dan India adalah 12.1% per populasi untuk Indonesia dan 40.5% per populasi untuk India ( CIA World Fact Book 2006).
Pemerintah India telah berusaha untuk menghilangkan batasan-batasan ini dengan memberikan quota dalam penerimaan pelajar dan pegawai pemerintahan untuk mereka. Namun tetap masih banyak dari golongan Dalit dan suku-suku terbelakang – backward tribes and castes – ini yang masih tidak mendapatkan kenikmatan quota-quota ini. Lebih banyak yang menikmati quota ini adalah mereka yang berada dalam strata ekonomi menengah keatas. Walaupun pemerintah India telah berusaha menghilangkan batasan-batasan ini terutama yang berhubungan dengan sistem kasta. Tapi secara umum batasan itu tetap ada karena itu merupakan bagian dari kebudayaan yang telah berumur ribuan tahun sehingga sulit untuk dihilangkan.


Jika kita kaji lebih dalam walaupun sekilas terlihat sama, permasalahan yang menyebabkan adanya angka kemiskinan yang terdapat di India dan Indonesia termasuk tinggi sangat berbeda. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia lebih karena tidak meratanya pembagian “kue” kemakmuran yang disebabkan tingginya angka KKN. Sedangkan India, lebih banyak disebabkan oleh sistem masyarakat yang berlaku.


Seharusnya masalah kemiskinan di Indonesia lebih gampang untuk diselesaikan jika saja pemerintah dan masyarakat umum mau berusaha lebih keras dan lebih serius untuk memberantas KKN. Paling tidak kita tak pernah menganggap kemiskinan sebagai hukuman atas dosa di kehidupan yang lalu. Kita miskin hanya karena kita tidak diperlakukan adil oleh kecurangan bukan nasib.

Read More......

Friday, April 27, 2007

EKSTRADISI

Kemarin aku lihat di berita TV kalau Indonesia akan menanda tangani perjanjian keamanan dan ekstradisi dengan Singapura dalam waktu dekat ini di Bali. Itu adalah berita yang sangat-sangat baik untuk Indionesia. Di satu pihak dalam perjanjian itu, Indonesia harus memberikan izin kepada Angkatan Bersenjata Singapura untuk menggunakan wilayah kedaulatan Indonesia sebagai tempat latihan militer Singapura dan di lain pihak dengan adanya perjanjian ekstradisi itu, Singapura wajib untuk menangkap dan mengekstradisi pelaku kriminal Indonesia yang berada di Singapura. Terutama pelaku tindak kriminal korupsi yang banyak bersembunyi di Singapura.

Mungkin untuk sebagian kritik, dengan adanya latihan militer Singapura di wilayah kedaulatan Indonesia, itu merupakan pelanggaran atasa kedaulatan Indonesia itu sendiri. Tapi harus kita ketahui bahwa bahkan sebelum adanya perjanjian ini, Angkatan Bersenjata Singapura telah menggunakan wilayah kedaulatan Indonesia sebagai tempat latihan militer dalam kegiatan latihan bersama antara TNI dan Angkatan Bersenjata Singapura yang merupakan kegiatan tahunan. Juga Angkatan Bersenjata Diraja Malaysia, Angkatan Bersenjata Australia dan dari beberapa negara lain yang memiliki perjanjian kerjasam mliter dengan Indonesia. Jadi, perjanjian ini hanyalah perluasan dari kerjasama militer yang telah ada dalam jangka waktu lama.

Walaupun sebelumnya Kepolisian Singapura dapat menangkap pelaku kriminal di Indonesia dengan mekanisme Red Notice Interpol, tapi tindakan itu hanya sampai disitu tanpa kelanjutan karena dengan tidak adanya perjanjian ekstradisi para kriminal itu tidak dapat di kirim pulang ke wilayah kedaulatan Indonesia terkecuali untuk pelaku kejahatan kemausiaan. Sedangkan umum diketahui bahwa Singapura adalah surga untuk pelaku tindak pidana korupsi karena alasan kedekatan geografis dan tidak adanya perjanjian ekstradisi tersebut.

Di satu sisi, Singapura cukup diuntungkan dengan adanya para koruptor tersebut di wilyahnya karena dapat dipastikan bahwa mereka membawa sebagian besar hasil jarahan harta rakyat itu ke negara tempat mereka bersembunyi. Dan harta yang mereka bawa itu sedikit banyaknya memberi masukan tambahan kepada Singapura. Di sisi lain, keberadaan mereka juga sedikit banyak menyumbangkan nama jelek untuk Singapura, minimal dimata Indonesia dan beberapa kali masalah ini menjadi batu penyandung dalam hubungan diplomatik kedua negara.
Indonesia selalu diposisikan sebagai salah satu negara tempat adanya kegiatan “money laundry” karena kurang ketatnya pengawasan lalu lintas uang dari dan kedalam negeri. Tapi dari kenyataan adanya pelarian pelaku pidana korupsi di Singapura, Singapura pun telah menjadi tempat pilihan untuk “money laundry” tersebut.

Sekali lagi dengan adanya kerjasama ekstradisi ini, para koruptor tersebut kehilangan salah satu surganya dan rakyat Indonesia mungkin dapat mengklaim sebagian dari uang yang dicuri dari kantongnya walaupun tidak semua. Dari pada bermimpi tentang keberadaan dana revolusi, lebih baik pemerintah dan rakyat Indonesia memfokuskan segala upaya untuk menarik kembali dana yang dilarikan ke luar negeri.

Read More......

TAMAT


Done, done, and done. Finally, setelah dua tahun selesai juga akhirnya masa pendidikan formalku. Memang hasil akhirnya, aku belum dapat tapi paling tidak kelas regulernya telah selesai semua. Masalah hasil akhir itu belakangan karena akhirnya setelah kurang lebih dua puluh tahun masa pendidikan akhirnya aku sampai di batas akhir, paling tidak untuk standardku sendiri karena sebenarnya masih ada strata diatas yang aku miliki sekarang. Ah... dua puluh tahun aku rasa cukup dulu mungkin nanti kalau kepingin jadi pelajar lagi mungkin aku sambung lagi.

Pada dasarnya selama kita hidup, kita tidak pernah berhenti untuk belajar. Yang menjadi perbedaannya adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari hidup itu sendiri. Bukan berarti orang yang berpendidikan formal tinggi akan menjadi “murid “ yang pintar dalam hidup dan juga sebaliknya. Saat kita bernafas, kita belajar. Saat kita berbicara kita belajar, bahkan saat sedang tertidur kita belajar. Pelajaran itu bukan hanya bisa didapat dari ruang kelas tapi pelajaran yang paling berharga adalah pelajaran yang kita dapat dari memperhatikan sekeliling lingkungan kita.

Bahkan dari seorang tukang becak kita dapat belajar. Mungkin bukan pelajaran bahasa Inggris ataupun matematika bahkan pelajaran yang muluk-muluk tentang kebijaksanaan hidup. Tapi mungkin kita belajar dari abang becak itu tentang permesinan, minimal dia pasti paham tentang mesin becak atau yang lebih praktis belajar tentang rute jalan yang bebas dari macet.

Sayangnya, banyak orang-orang yang memiliki pendidikan formal tinggi selalu mersa lebih baik dari pada mereka yang tidak memiliki pendidikan seperti mereka. Padahal jika dibandingkan dengan yang lain, ilmu yang mereka miliki tidak seberapa. Mungkin dalam satu cabang ilmu mereka saat menguasau tapi belum tentu dalam cabang ilmu yang lain. Sebagai contoh, mungkin seorang ahli energi nuklir belum tentu mampu untuk menghasilkan sebuah keranjang bambu.
Bukan juga bahwa pendidikan formal itu tidak penting tapi semua pelajaran yang kita dapat baik dari bangku sekolahan maupun dari lingkungan sekitar kita itu saling melengkapi satu sama lain. Cuma masalah aplikasi dan teori yang membedakan keduanya. Yang satu mungkin lebih mengutamakan teori sedangkan yang satu lagi hanya berisi aplikasi. Tanpa ada teori takkan ada aplikasi tapi dilain pihak, tanpa ada aplikasi, suatu teori hanya menjadi sampah yang tak ada gunanya.

Satu dalam hidup yang kita pelajari sebagai manusia. Kita lahir, kita hidup, dan pada akhirnya kita akan mati.

Read More......

Friday, April 13, 2007

ALASAN-ALASAN

Mungkin ini kali pertama aku membahas tentang keberadaan tulisan-tulisanku yang ada di blog ini. Pada awalnya, alasanku untuk mulai menulis dalam blog ini karena anjuran salah seorang teman untuk membuat tulisan tentang pengalaman-pengalamanku selama berada di India. Bahkan lebih jauh lagi dia menganjurkan agar tulisan-tulisan itu dikirimkan ke media massa karena sepertinya bakalan menarik sebagai cerita perjalanan. Saat itu, ku pikir-pikir baik juga usulnya karena selain untuk latihan menulis juga bisa menghasilkan sedikit masukan secara finansial.

Namun setelah ku pikir-pikir lagi sepertinya belum saatnya aku mulai menulis untuk umum. Mungkin ini terdengar absurd karena aku sudah mulai menulis dalam blog yang beredar di alam maya yang berarti bahwa siapa saja yang memiliki akses internet bakalan bisa membaca tulisan-tulisanku ini.

Tapi kita harus bisa membedakan antara “umum” yang pertama ku sebutkan dan “umum” dunia maya. “Umum” yang pertama adalah “umum” yang akan membaca tulisanku di media massa yang berarti “umum” dalam jumlah massal karena siapapun bakalan bisa membacanya selama kertas yang berisi tulisanku itu terpampang didepan mata “umum” ini, baik di rumah, di kantor maupun di warung-warung kopi karena tingkat aksesebilitas media massa baik itu koran, majalah atau tabloid lebih tinggi dibandingkan tingkat aksesebilitas dunia maya terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Disini aku tidak berbicara tentang media TV atau radio karena dari masalah yang sedang ku kemukakan, tulisanku, pasti lebih mengarah ke media cetak. Kecuali jika tulisanku di konversi ke media visual atau audio yang sepertinya sangat jauh dari jangkauan. Kembali ke masalah “umum”, “umum” dunia maya lebih kecil dalam jumlah dibandingkan “umum” media. Dalam artian mereka-mereka yang bakalan membaca tulisan-tulisanku di blog ini hanya orang-orang yang tahu tentang keberadaan blog ini dan dengan tambahan segelintir orang yang tanpa sengaja menemukan blog ini.

Mungkin yang ku kemukakan diatas terdengar sebagai tanda kurangnya rasa percaya diri. Bolehlah begitu kalau mau dianggap begitu. Tapi untukku pribadi ada dua alasan kenapa aku merasa belum saatnya tulisanku menjangkau “umum” yang lebih luas. Alasan yang pertama adalah karena aku merasa bahwa sampai saat ini belum ada satupun pengalamanku yang cukup menarik untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Minimal dalam pandanganku sendiri, entah mungkin orang lain yang membaca akan memiliki pendapat yang berbeda. Dalam pandanganku yang terkadang sempit dan penuh dengan penilaian-penilaian yang egois, pengalaman hidup orang bukanlah hal yang cukup menarik untuk dibaca karena pada dasarnya semua orang bakal memiliki pengalaman yang sama mungkin dengan sedikit perbedaan yang tidak cukup siknifikan untuk dikatakan menonjol dari yang dimiliki orang lain.

Dalam anggapanku, yang berhak dan pantas untuk menceritakan pengalamannya hanyalah orang-orang yang memiliki pencapaian yang mumpuni ataupun mengalami suatu pengalaman yang diluar kebiasaan. Kalau tentang pengalamanku, yah, pastilah hampir sama dengan pengalaman orang-orang yang berada di negara asing lainnya. Keterkejutan budaya, sulit mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera lidah, melihat tempat-tempat yang berbeda, perbedaan kondisi cuaca dan sebagainya dan sebagainya. Jadi apanya yang berbeda dari pengalaman orang lain. Kalau kita mau jujur sebenarnya yang kita anggap sebagai pengalaman-pengalaman yang berbeda lebih pada usaha kita untuk menempatkan diri kita di luar jangkauan pengelompokan. Toh sebelum kita sudah berusaha membedakan diri kita dengan yang lain, sudah ada orang-orang yang lain yang berusaha keluar dari pengelompokan-pengelompokan itu dan hasilnya — mereka menciptakan kelompok baru yang memberikan hasil yang sama dari pengelompokkan yang mereka berusaha hindari. Jadi untuk apa capek-capek berusaha untuk berbeda untuk hasil yang sama.

Daripada menulis tentang pengalaman-pengalamanku yang mungkin juga telah dialami oleh yang lain, aku merasa lebih baik untuk menulis tentang pikiran-pikiran yang pastinya berbeda dari setiap orang. Pikiran adalah hal utama yang membedakan suatu individu dari individu lainnya terutama dalam kasus manusia. Bukankah manusia adalah binatang yang berpikir.

Alasan yang kedua, lebih karena masalah teknis dan alasan ini yang mungkin bisa dianggap sebagai tanda kurangnya percaya diri. Aku merasa kalau tulisanku belum cukup baik untuk diedarkan di “umum” yang besar. Secara teknis penulisan, kurasa masih banyak ku pelajari. Kenapa aku sampai memiliki pendapat seperti ini tentang tulisanku sendiri? Pendapat ini keluar lebih disebabkan semakin banyak yang ku ketahui. Semakin banyak kita mengetahui tentang sesuatu hal, kita cenderung merasa semakin kehilangan kreativitas.

Edward de Bono pernah bilang dalam bukunya kalau semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, orang itu cenderung untuk kehilang kemampuannya untuk memecahkan masalah dengan jalan yang mudah. Penyebabnya? Karena pendidikan orang tersebut. Dalam pendidikan kita dicekoki dengan tatanan-tatanan baku yang harus diikuti sehingga kita menjadi judmental akan solusi-solusi mudah. Sebagai bukti, seorang anak yang masih di bangku SD akan lebih mampu untuk memberikan solusi untuk suat masalah dalam bentuk visual dibandingkan seorang dewasa yang berpendidikan tinggi. Penyebabnya mungkin orang dewasa tersebut merasa tidak yakin bahwa gambar yang ia hasilkan tidak akan memenuhi nilai-nilai estetik yang didapat dalam masa pembelajarannya. Sedangkan anak yang menghasilkan solusi visual tidak pernah memikirkan nilai-nilai estetik yang sama.

Jadi mungkin aku juga telah terpengaruhi oleh efek dari pendidikan tinggi yang menyebabkanku kehilangan kreativitas yang mungkin ku miliki di masa kanak-kanak.

Demikianlah alasan-alasan kenapa mungkin isi blog ini takkan menarik untuk anda yang mambaca. Mungkin secara sadar maupun tidak sadar dengan mengemukan alasan-alasan tersebut, aku mencoba untuk menghindari pengelompokkan yang ku sebutkan diatas. Tapi merupakan hak setiap orang untuk memiliki keputusan atas apa yang akan dilakukannya. Jadi ini merupakan hakku sebagai seorang manusia yang berpikir untuk membuat tulisan ini dan juga hak anda yang membaca tulisan ini dan untuk menilai hasil akhirnya.

Read More......