Wednesday, April 11, 2007

DUH! MALANGNYA!

Belakangan ini aku sering dengarin lagu-lagu Slank dari kaset yang ku bawa dari rumah ataupun rekaman MP3. Ga tau kenapa mungkin karena belakangan aku sering ingat masa-masa dulu waktu di SMU. Masa-masa yang kalau menurutsalah seorang temanku penuh dengan “kenakalan-kenakalan remaja”, masa-masa waktu aku belum perlu untuk memikirkan masa depan, masa-masa saat waktuku lebih banyak habis untuk memikirkan kenikmatan-kenikmatan yang bisa diraih hari itu. Aku selalu menganggap masa di SMU adalah masa terbaik dalam hidupku.


Lagu-lagu Slank memang merupakan “lagu kebangsaan” untuk saat-saat itu. Sampai kami, aku dan “gerombolanku” saat itu menamai teras kamar salah seorang temanku, yang sekarang mungkin telah “damai” di alam seberang sana, dengan nama “Gang Potlot” sesuai dengan nama markas Slank dan keseluruhan kamar itu sebagai “kamar bedah otak” karena pasti setiap hari di kamar itu kami “membedah otak” kami dengan bahan-bahan organik dan non-organik. Perasaan hidup layaknya kehidupan dalam sinetron “Anak Menteng” di ANTV dengan seragam sekolah yang hanya ditautkan dua kancing teratas, tawuran antar sekolah.

Terkadang baru sekarang aku baru paham kenapa dulu saat masih di bangku SMU, semua orang selalu memandangku dan “gerombolan”ku dengan mata sinis. Tapi pandangan ini bukan hanya tertuju kepada kami tapi juga kepada anak-anak sekolah yang seperti kami. Alasannya? Karena kami dan mereka yang seperti kami selalu menganggap dunia milik kami dan yang lain cuma orang yang ngontrak. Mungkin terdengar seperti ucapan klise yang ditujukan untuk orang yang berpacaran, “dunia milik kita berdua, dik!”. Tapi diantara ku dan “gerombolan”ku memang ada cinta, “TOUGH LOVE”. Buktinya walaupun aku mencoba untuk tidak menangis tapi tetap saja air mataku menetes saat aku mengantarkan salah seorang temanku ke liang lahat.


Yah, masa-masa itu pasti takkan kembali karena waktu berputar dan manusia berputar didalamnya “TEMPORA MURMURA, HOMO MURMURA ILLIS”. Waktu pastinya tak bisa diputar mundur kebelakang mungkin kalau Superman memang ada, dia bisa memutar putaran bumi melawan rotasinya dan waktu akan bergerak mundur. Tapi itu hanya mungkin dalam film saat Superman ingin menyelamatkan Lois Lane.


Kenapa aku jadi ingat masa lalu? Mungkin karena aku baru mendengar kabar kalau salah seorang teman kuliahku dulu akan menikah minggu ini. Memang bukan aku iri atau kepingin cepat nikah juga. Tapi karena pernikahannya semua rencanaku saat pulang nanti bisa bubar.


Saat pulang nanti ada 3 hal yang pertama ingin aku lakukan. Pertama, main bilyar sampai puas, terus makan di kedai Si Buyung didepan kampus UISU sampai kenyang, terutama peyek udangnya. Nah! Rencana yang ketiga yang sepertinya bakalan bubar, pergi kemping ke Sibolangit. Rencana yang ketiga ini yang kayaknya sulit untuk dipenuhi karena temanku yang paling berpengalaman kalau masalah alam bebas sudah kawin. Pastinya tidak mungkin istrinya mengizinkannya untuk pergi kemping!


Mungkin kalau orang lain yang berada dalam posisiku bakalan mikirin untuk mencari pekerjaan yang mapan atau sebagian lagi ingin cepat-cepat kawin karena dikejar umur. Tapi kalau untukku, aku malas mikirin hal yang rumit-rumit. Daripada memikirkan hal-hal yang dipikirkan orang lain, aku lebih suka memikirkan hal-hal yang lebih realistik dan gampang untuk diwujudkan.


Daripada memikirkan mencari pekerjaan yang belum tentu ada, aku lebih suka memikirkan untuk main bilyar sepuas-puasnya yang selama 2 tahun ini tak pernah bisa terpenuhi. Banyak yang gila karena memikirkan pekerjaan yang sulit untuk didapat dan kalaupun ada tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Aku tak pernah sekalipun memikirkan bahwa pendidikan itu akan memberikan pekerjaan. Buatku pendidikan itu lebih untuk membuka cakrawala dan pembiasaan untuk berpikir logika hingga nanti saat terjun kedunia kerja dapat orang dengan pendidikan dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Pernah salah seorang temanku di India bertanya padaku, apa rencana jangka panjangku setelah selesai dari tempat ini. Jadi ku jawab kalau aku ingin jadi petani. Dianya jadi heran karena kalau aku ingin jadi petani untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi karena pendidikanku jadi percuma. Ku jawab lagi kalau aku punya pendidikan yang tinggi dan dapat menggunakan bahasa asing, sebagai petani aku bakalan bisa lebih gampang berkomunikasi dengan konsumen hasil pertanianku yang mungkin datang dari negara lain dan dari pemahamanku tentang media yang kupelajari dari pendidikanku, aku bisa menggunakan media untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil kebunku. Dan yang terpenting lagi aku tidak bakalan gampang untuk ditipu oleh tengkulak-tengkulak yang banyak menyengsarakan hidup petani. Jadi daripada mikirin tentang pekerjaan yang belum tentu ada dan belum tentu memuaskanku, lebih baik aku buat rencana untuk main bilyar.


Sebagian lagi dari orang-orang yang kukenal, lebih banyak memikikan untuk segera menikah karena mereka menganggap umurnya sudah terlalu tua. Tapi aku yakin alasan sebenarnya bukan karena umur tetapi lebih karena kebutuhan biologis mereka yang sudah menggebu-gebu untuk dilampiaskan. Mereka kebanyakan takut untuk melampiaskannya karena memang takut dengan amarah Tuhan dan sebagian lagi bukan karena takut akan Tuhan tapi lebih karena takut ketahuan kenalan dan malu. Sebagian lagi dan ini kelompok yang paling besar, karena memang tak punya tempat untuk melampiaskan karena berbagai alasan. Nah, bagaimana dengan aku sendiri? Kalau menikah cuma karena masalah seks, untukku tak lebih dari prostitusi. Kenapa? Karena saat nikah kita bakalan mengeluarkan uang yang tak sedikit dan juga setelah itu kita harus memberikan nafkah untuk pasangan kita. Jadi apa bedanya dengan prostitusi? Kalau kita mengeluarkan uang untuk mendapatkan seks.


Pernah salah seorang temanku mengatakan padaku, apalagi yang ku tunggu, yang lain sudah menikah dan kenpa aku tidak cepat-cepat menyusul yang lain? Ringan saja ku jawab “untuk apa kita capek-capek buat dapur, kan banyak warung yang buka dan rasanya kadang lebih enak”. Itu bukan berarti aku menghalalkan perlacuran tapi lebih sebagai jawaban ringan untuk pertanyaan yang buat sebagian yang lain berat. Sebagian orang beralasan menikah karena cinta tapi tak sedikit orang yang ku kenal dan menggunakan alasan ini dengan harapan surga tetapi malah berakhir dengan neraka. Ada memang perempuan yang bisa ku sebut dengan “calon” tapi dari yang banyak kulihat perasaan saat menjalani ikatan jangka pendek banyak berbeda dengan perasaan dalam menjalani ikatan jangka panjang. Jadi, daripada sibuk memikirkan pernikahan yang bagi sebagian orang hanya untuk memuaskan nafsunya, lebih baik aku membuat rencana untuk memuaskan nafsuku di kedai Si Buyung dengan peyek udangnya yang gurih dan bisa meneteskan air liur.


Ah... rencanaku ketiga yang malang. Nampaknya karena maslah teknis, aku harus membuat rencana cadangan yang lebih realistik dan gampang untuk diwujudkan.

Read More......

Sunday, April 08, 2007

PIALA DUNIA

Sekarang ini sedang berlangsung Piala Dunia di West Indies atau Trinidad and Tobaggo. Mungkin yang baca tulisan ini akan agak bingung karena umumnya orang tahu kalau Piala Dunia sudah berakhir tahun lalu dan Itali keluar sebagai juara dan Piala Dunia yang akan datang baru akan diadakan tahun 2010.

Tentu saja ini bukan Piala Dunia sepak bola atau Coup Du Monde bahasa kerennya tapi yang sedang berlangsung saat ini di Trinidad and Tobaggo itu Piala Dunia Cricket. Bingungkan! Mungkin untuk kita yang tinggal dan hidup di Indonesia pasti belum pernah melihat ataupun mendengar olah raga yang bernama Cricket. Sama, aku juga belum pernah lihat sebelumnya, kalau dengar nama olah raga ini memang sudah pernah.

Olah raga ini memang umumnya populer di negara-negara Commonwealth atau negara-negara bekas koloni Inggris dan sedikit negara diluar kelompok ini. India seperti layaknya negara Commonwealth, juga salah satu negara dimana Cricket sangat populer bahkan begitu populernya sudah seperti kewajiban untuk setiap warga India untuk menyukai olah raga ini. Para pemain Cricket atau Cricketer India di puja bahkan terkadang melebihi artis-artis Bollywood.

Jika Baseball menjadi “Number One Pass Time in America” maka untuk India, Cricket adalah hiburan pengisi waktu nomor satu. Kalau di Indonesia kemanapun kita pergi paling tidak pasti melihat orang yang sedang main sepak bola maka di India, kemanapun kita pergi pasti kita bisa lihat orang-orang yang sedang main Cricket. Dari dulu sampai sekarang aku belum bisa paham juga dengan peraturan olah raga ini. Kalau dalam baseball atau softball, pemainnya harus memukul bola dan melewati empat base tapi kalau dalam Cricket yang ku lihat setelah memukul bola pemainnya cuma lari mondar mandir.

Kalau ada rekor pertandingan olah raga yang paling lama untuk satu pertandingan. Mungkin pemenangnya pasti Cricket karena satu pertandingan bisa memakan waktu sampai lima hari. Bahkan setelah lima hari masih tetap bisa draw. Gila!

Mungkin kita sering dengar kerusuhan dalam pertandingan sepak bola karena ulah “hooligans” atau di Indonesia terkenal dengan “bonek”. Memang aku belum pernah dengar ada kerusuhan dalam pertandingan cricket tapi kalau demonstrasi sudah pernah dengar. Kalau kerusuhan dalam sepak bola biasanya karena pendukung kesebelasannya tidak puas atau karena sentimen antar supporter. Nah, kalau demonstrasi yang berhubungan dengan Cricket disebabkan karena siaran langsung pertandingan tim nasional India tidak disiarkan di TV, jadinya banayk yang kecewa dan demon ke pemerintah dan stasiun TV.

Ada satu lagi yang aku tidak begitu paham dengan olah raga ini. Seringnya aku mendengar kalau satu pertandingan dinamai “Test”. Nah, kalau terus-terusan tes kapan main yang benarnya?

Dulu aku pernah ngobrol tentang Cricket dengan temanku tapi semuanya pelajar asing jadi ga ada yang paham tentang Cricket. Disitu salah seorang temanku sempat bilang kalau Inggris memperkenalkan Cricket di India untuk membungkam rakyatnya atas penjajahan Inggris. Kalau rakyat India disibukkan dengan pertandingan Cricket yang bisa memakan waktu berhari-hari jadinya mereka tidak sempat untuk memikirkan untuk merdeka. Masuk diakal juga!

Kembali ke Piala Dunia Cricket yang sedang berlangsung di Trinidad and Tobaggo. Sekarang ini India sedang kecewa karena tim nasional India kalah di putaran pertama dimana seharusnya tim India merupakan salah satu tim unggulan. Salah satu berita utama di Piala Dunia ini mungkin bukan pertandingannya tapi kasus pembunuhan pelatih tim nasional Pakistan dikamar hotelnya.

Sebelum Piala Dunia ini berlangsung, salah seorang dosenku sempat bertanya padaku kalau aku tahu tentang Piala Dunia ini. Tapi aku balik bertanya memangnya ada berapa negara yang main Cricket? Dia kemudian bilang kalau negara yang bener-benar main cricket di dunia paling 6 sampai 8 negara tapi untuk Piala Dunia ada 16 negara yang akan bertanding. Kalau dibandingkan dengan Piala Dunia sepak bola pastilah sangat berbeda dimana untuk putaran final ada 32 negara yang bertanding dan yang ikut babak kualifikasi bisa ratusan negara. Oh iya, cerita tentang Piala Dunia sepak bola, mungkin jarang ada yang tahu kalau Indonesia sebenarnya pernah masuk putaran piala dunia tapi dulu tahun 1920an waktu namanya belum Indonesia tapi masih Hindia Belanda.

Kalau Piala Dunia Cricket, yah lumayanlah masih bisa disebut Piala Dunia karenja lebih dari satu negara yang ikut bertanding. Tidak seperti Baseball di Amerika. Mereka menamai putaran finalnya sebagai “World Series” tapi yang bertanding cuma klub baseball Amerika.

Read More......

Thursday, April 05, 2007

ISI PERUT

Salah satu daya tarik India bagi orang asing mungkin adalah makanan tradisionalnya. Mungkin banyak yang pernah mendengar tentang kenikmatan Nasi Biryani atau lezatnya Ayam Tikka Masala maupun enaknya Masala Dosa.

Itu juga yang pertama ku bayangkan sewaktu berangkat ke India dua tahun yang lalu. Tetapi sayangnya waktu pertama merasakan makanan India, sempat terkejut lidah juga karena walaupun salah satu hobiku makan namun sulitnya aku termasuk orang yang agak pilih-pilih kalau soal rasa. Dua hari pertama di India adalah siksaan untukku karena aku belum isa menerima rasa masakan India yang sangat kuat rasa bumbunya.

Makanan Indonesia juga memiliki rasa bumbu yang kuat tapi bedanya kalau masakan Indonesia rasa bumbunya “blend” ke rasa bahan utama maskannya tapi kalau makanan India rasa bumbunya mengalahkan rasa bahan utama. Makanan India menggunakan lebih banyak macam bumbu dibandingkan masakan Indonesia jadi terkadang rasa makanannya jadi kayak rasa “nano-nano”. Rasa makanan India itu disebabkan karena dalam hampir semua makanannya bumbunya memakai bumbu masala. Bumbu masala itu merupakan campuran dari macam-macam bumbu mulai dari jahe, kunyit, cengkeh sampai “cummin seed” ( ga tau aku apa bahasa Indonesianya). Jadi hampir semua rasa makanan India itu rasanya sama karena bumbunya hampir sama baik yang makanan vegetarian maupun non-vegetarian.

Satu-satunya makanan India yang bisa diterima perutku dengan suka rela cuma Nasi Biryani. Karena walaupun rasa bumbunya kuat tapi tak sekuat yang lain karena pada dasarnya bumbunya itu diserap sama daging yang dimasak dengan nasi. Rasa Nasi Biryani itu sedikit mirip rasa rendang ayam jadinya agak masih bisa diterima pencernaan. Bedanya mungkin cuma di rasa saffron yang cukup kuat. Bedanya juga dengan rendang yang dimasak dengan santan kelapa, Nasi Biryani dimasak dengan yoghurt jadinya agak ada rasa asam sedikit di nasi dan dagingnya. Mungkin kalau rendang yang rasanya asam pasti tidak ada yang mau makan karena pasti dianggap mulai basi.

Sama kalau mau makan dimanapun rasa masakannya berbeda dari satu restoran dengan restoran yang lainnya. Tempat favoritku kalau mau makan Nasi Biryani di Hotel Alfa yang ada di depan stasiun kereta api Secunderabad. Rasa Nasi Biryani yang ada di Hotel Alfa itu rasanya agak beda dari tempat yang lain. Rasa bumbunya lebih seimbang/balance dan daging ayam atau kambingnya lebih lembut. Tapi sayangnya ga bisa sering-sering ke sana karena agak jauh dari rumah dan juga faktor keuangan, biasalah namanya juga pelajar.

Selama di India ini rindu juga makan di warung pinggir jalan atau di Pasar kaget karena jarang ada tempat kayak itu di India. Kayaknya disini orang-orangnya ga suka lama-lama nongkrong di warung atau tempat makan ataupun mungkin karena kebijakan tempat makannya sendiri. Kalau kita makan di restoran di India, begitu pelayannya lihat kita selesai makan-minum pasti cepat-cepat tamunya disodori tagihan dan mejanya di bersihin jadi kayaknya mau ngusir. Kalau kita agak lama duduknya pasti pelayannya mondar-mandir dan ngeliatin, apalagi kalau tidak mesan lagi.

Jangan harap bisa dapat tempat makan kaki lima kayak Pasar Kaget Binjai atau Warteg Harapan karena memang ga ada disini. Kalaupun ada bukan dalam bentuk warung tapi dalam bentuk asongan. Sering uga kalau lagi duduk-duduk dipinggir Husain Sagar ada yang datang nawarin tapi aku ga pernah nyoba karena sangsi juga maslah kebersihannya. Makanannya ga tahu apa namanya tapi isinya itu kayak kacang-kacangan yang dicampur sama irisan bawang, tomat, dan daun sop terus disiram dengan semacam saos. Kalau lihat tangan yang jual jadi makin tidak selera untuk beli karena tangannya udah hitam dakian pula itu. Jadi ada rasa bumbu tambahan, bumbu tangan.

Tidak seperti di kampus UISU yang gampang cari tempat makan, kalau di kampusku yang disini agak sulit untuk cari tempat makan. Satu-satunya pilihan tempat makan cuma kantin kampus tapi rasa makanannya, jangan ditanya, yang penting ga lapar aja. Ada satu tempat makan diluar kampus yang agak dekat ke rumahku, namanya Shanghai Chinese Fast Food. Bukanya mulai jam 3 sore. Namanya memang masakan Cina tapi rasanya ya, tetap India juga karena bumbunya tetap memakai bumbu masala. Tapi lebih baik daripada rasa makanan yang di kantin kampus.

Untung juga dulu di rumah aku sering bantuin atau sekedar melihat mamakku masak jadi selama disini bisa masak sendiri. Lumayanlah agak-agak rasa Indonesia walaupun kebanyakan rasa eksperimen.

Memang kalau dibandingkan dengan masakan India, masakan Indonesia lebih nikmat. mungkin karena rasanya lebih akrab dengan lidahku. tapi ada juga dosenku yang disini pernah bilang kalau masakan India itu bentuknya bisa sepuluh tapi rasanya sama. Apalagi kalau dibandingkan dengan masakan Padang, jauh ....

Mungkin kalau ada lebih banyak restoran yang khusus masakan Indonesia di luar, masakan Indonesia bisa lebih populer dan dikenal.

Read More......

Wednesday, April 04, 2007

BENDERAKU


Sebelum aku berangkat ke India dua tahun yang lalu, aku sempat ngobrol-ngobrol dengan salah seorang manatan dosenku tentang keadaan di India karena dia juga dulu sempat belajar di India. Waktu itu aku sempat bilang ke dia kalau aku takut nanti waktu di India pikiranku gak tenang untuk belajar karena saat itu mamakku mulai sakit-sakitan. Ya, walaupun aku sadar kalau aku bukan anak yang baik tapikan tetap saja namanya anak pasti mikirin orang tuanya. Terus dia ngasi saran untuk membawa pakaian mamakku ke India jadi kalau lagi mikirin mamakku ada yang jadi pengingat. Sarannya boleh juga tapi ku pikir-pikir aneh juga masa aku bawa-bawa pakaian perempuan nanti kalau ada yang tau apa dibilang orang, malah nanti takutnya dianggap ada kelainan pula aku.

Ku pikir-pikir memang aku perlu ada bawa sesuatu yang bisa ngingatinku akan keluarga dan lingkunganku. Akhirnya ku putusin untuk bawa bendera yang ada di rumah. Kan bawa bendera lebih aman daripada bawa pakaian perempuan. Jadilah akhirnya bendera itu ikut berangkat ke India bersamaku.

Merah-putih bendera negaraku. Sekarang jadi salah satu hiasan flat yang ku tempati. Bagus juga jadi alat ngenalin Indonesia ke orang asing karena setiap teman-teman dari negara lain datang ke flat pasti nanya kalau itu bendera Indonesia dan apa arti warna yang ada di bendera itu.

Selain jadi alat pengenal bangsa ada bagusnya juga kalau aku bawa bendera itu karena di Hyderabad aku satu-satunya pelajar Indonesia yang tak seberapa jumlahnya yang bawa bendera jadi waktu kami ngadain acara makan malam Tujuh belas Agustusan ada benderanya. Tapi acaranya cuma sekali diadain karena di tahun kedua pelajar Indonesianya semakin sedikit.

Bendera yang pada awalnya ku bawa untuk jadi tanda pengingat mamakku pada akhirnya lebih banyak mengingatkanku pada negaraku. Ku rasa aku lebih menghargai statusku sebagai warga negara setelah aku berada di negara lain. Yah, seperti orang yang pacaran, rasa rindu selalu lebih kuat saat sedang berjauhan, kurasa sama juga dengan perasaanku dengan Indonesia. Tapi sayangnya tidak semua memiliki perasaan yang sama denganku. Malah salah seorang temanku jarang mau mengakui kalau dia warga negara Indonesia saat berkenalan dengan orang dari bangsa lain. Lebih sering dia mengakui sebagai warga negara Malaysia karena di malu untuk menjadi warga negara Indonesia yang miskin dan selalu bermasalah. Padahal dari yang aku tahu tentang dia, secara ekonomi dan pendidikan dia berada diatas yang lain. Yang dalam artian lain dia lebih banyak merasakan nikmatnya menjadi warga negara Indonesia dibandingkan yang lain.

Sebagian lagi berusaha untuk tidak pulang ke Indonesia setelah selesai masa belajar yang dua tahun dan berusaha untuk dapat pergi ke negara lain daripada kembali ke Indonesia. Mereka sempat juga mengajakku untuk mencari visa dan pekerjaan di negara lain karena di Indonesia sulit untuk mendapat pekerjaan yang layak dan gak enak jadi warga negara Indonesia. Memang aku juga tahu kalau sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Indonesia tapi itu bukan mejadi sebuah alasan untuk muak menjadi bangsa Indonesia.
Aku gak nganggap pendapat mereka salah atau pendapatku yang benar dan juga sebaliknya. setiap orang punya hak untuk memiliki pendapat pribadi. Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang mereka, mereka yang benar dan sebaliknya jika dilihat dari sudut pandangku, mungkin aku yang benar. Bukankah salah satu tanda akan adanya demokrasi jika ada perbedaan pendapat. Tetapi dalam anggapanku salah satu alasan kenapa Indonesia memiliki banyak masalah karena banayak orang-orang yang ada di Indonesia sendiri tidak memiliki kebanggaan diri sebagai warga negara. Jadi bagai mana orang lain akan mengahargai kita kalau kita sendiri tidak menghargai siapa kita. Selain itu dalam anggapanku, orang yang lari pastilah orang yang salah ataupun kalah. Aku yakin kalau aku tidak termasuk dalam kedua kategori itu.

Bendera yang ku bawa ke India itu sekarang kondisinya, yah gak lusuh-lusuh kali tapi penuh dengan debu. Tapi nanti waktu ku pulang pasti akan ku cuci dan ku bawa kembali ke rumah.

“... lusuhnya kain bendera dihalaman rumah kita
bukan satu alasan untuk kita tinggalkan ...”
(Iwan Fals)

Read More......

Saturday, March 03, 2007

HOLI


Hari ini awal bulan Maret. Biasanya setiap awal Maret ada perayaan Hindu di India, namanya Holi. Kalo katanya sih perayaan untuk menyambut datangnya musim semi tapi kok kayaknya musim seminya disini sama aja gak kayak msim semi di Eropa, dimana bunga-bunga mekar, burung-burung bernyanyi riang dan sebagainya-sebagainya.


Cara perayaannya sih cukup menarik tapi bagi yang gak suka kotor lebih baik jauh-jauh aja, kayak aku! (bukan berarti aku fanatik sama kebersihan, malah kalo mamakku bilang aku joroknya kayak babi he…he… tapi dia tetap sayang kok sama aku). Jadinya aku Cuma liat orang-orang dari atas gedung flatku. Nah, perayaannya ini di tandai dengan bulan purnama pertama di awal Maret atau akhir Februari. Setiap orang yang ada disekitar tempat perayaan (dimana-mana) saling siram dengan bubuk berwarna atau air berwarna. Malasnya warnanya itu kalo kena baju ga bisa hilang. Kalau aslinya bubuk-bubukan itu punya kandungan obat biar ga sakit karena perubahan cuaca dari musim dingin yang dingin ke musim semi yang panas tapi sekarang karena harga udah mahal jadi kebanyakan orang-orang makai bubuk yang murah dan ga jelas kandungan kimianya. Hari kedua biasa yang ngerayain buat patung-patungan trus di bakar.

Jadi ingat kawan cewek yang dari Turmenistan tahun kemaren. Jadi ceritanya dia mau ke took belanja, trus di tengah jalan jumpa orang yang ngerayain Holi dan dianya disiram pake bubuk berwarna. Awalnya sih dia senang-senang aja karena yang nyiram juga ketawa-ketawa sambil bilang “Happy Holi, happy Holi…” ke dia. Sialnya, besok harinya, muka kawan ini, oh iya… namanya Gul, yang kalo dalam bahasa Persia berarti mawar, bentol-bentol merah dan gatal-gatal karena karena alergi sama kandungan kimia yang di bubuk itu. Akhirnya sambil maki-maki dalam hati, terpaksa dia ke dokter kulit.

Kalo dalam hari-hari perayaan Holi yang dua hari kita keluar rumah, liatnya pasti muka dan rambut orang-orang yang warna warni dengan latar belakang hitam karena kulitnya memang hitam-hitam. Gak peduli tua-muda, perempuan-lelaki, kaya-miskin semua warna kulit sama pakaiannya warna-warni kecuali ‘anak mudanya’ karena anak mudanya malas kalau nantinya mesti ke dokter kulit….

SELAMAT HOLI

Read More......

Sunday, February 18, 2007

22 JAM YANG MENYIKSA

Ceritanya sih sebenarnya udah relatif lama lebih setahun yang lalu tepatnya Desember 2005. Jadi ceritanya aku ama temanku Mujazin ikut tur ICCR untuk yang musim dingin,oh iya, ICCR itu organisasi kebudayaan pemerintahan India yang ngasi bea siswa ke aku makanya bisa terdampar dinegeri Rabindranath Tagore. Memang biasanya setiap tahun ICCR ngadain tur wisata untuk mahasiswa asing yang ada di India sebanyak dua kali, sekali musim dingin dan sekali lagi musim panas. Lumayan murah cuma perlu bayar Rs 2000 ato sekitar Rp 400.000,- kalo kursnya Rp 9000,- bisa jalan-jalan ke daerah-daerah wisata India. Nah aku ama temanku itu dapat paket yang untuk Madhya Pradesh.


Kami di kasih tau untuk ngumpul di Gwalior, Madhya Pradesh pada hari yang udah ditentuin. Nah inilah awal ceritanya dapat siksaan selama 22 jam. Kalo naik kereta api dari Hyderabad ke Gwalior itu kurang lebih sekitar 22 jam. Susahnya waktu itu lagi musim liburan jadinya sulit untuk dapat tiket kereta yang ada bangkunya, kalomo dapat bangku minimal mesti booking dua tiga minggu sebelum tanggal keberangkatan. Yang nambah masalah lagi kami baru dapat kabar kalo kepilih di paket yang Madhya Pradesh cuma sekitar seminggu sebelum berangkat makanya jadi kacau. Jadi mau ga mau dibeli juga tiketnya yang tanpa bangku cuma dapat daftar penumpang cadangan. Terpaksa, abis sayang bisa jalan-jalan murah he...he... biasalah namanya juga pelajar jadi apa aja yang murah pasti disabet.

Jadilah akhirnya kami mesti naik kereta tanpa bangku. Pertamanya sih kirain agak gampang karena waktu aku ke Delhi beberapa bulan sebelumnya juga kejadiannya sama tapi nasib bagus ga lama bisa dapat bangku. Jadi kami nunggu kesempatan dapat bangku sambil berdiri di dekat pintu. Sialnya waktu kondektur kereta memeriksa karcis kami dikirain penumpang gelap dan mo didenda soalnya karcis nyelip ga jelas dimana. Untunglah setelah bongkar-bongkar tas dapat juga tuh karcis jahanam tapi tetap juga ga dapat bangku. Nyoba juga mo nyogok kondektur biar dapat bangku tapi ga berhasil juga bukan karena pak kondektur kebal korupsi tapi karena kalah cepat ama orang lain. Jadilah mesti bertahan terus di depan pintu mana bau lagi, soalnya sebelahnya toilet mana orang situ kalo buang air ga ngert nyiram, bangsat....

Lebih sialnya lagi malam. Namanya juga musim dingin, anginya... wuih udah kayak di kulkas aja perasaannya. Kirain ga gitu dingin soalnya ga ada salju. Kan kalo namanya musim dingin pasti ada salju kayak yang di TV-TV makanya ga bawa selimut.memang udah dibilangin ama kawan-kawan untuk bawa selimut untuk di kereta karena makin ke utara udaranya makin dingin. Tapi dasar batak keras kepala, jadi ga bawa selimut. Lagian gengsi lah masa anak mudanya mesti pake selimut kan kita kuat. Tapi apa dinyana dinginnya, aduh mak!

Trus ada lagi masalah, rokok! Di kereta dilarang merokok sedangkan aku ga tau yang banyakan mana ngepulin asap aku ato kereta apinya. Aku lebih tahan ga makan dari pada ga merokok biasalah namanya juga warga negara penghasil tembakau. Jadi kalo mo merokok mesti sembunyi si kamar mandi sambil nahan bau. Ah dasar sial! Gara-gara rokok ditangkap polisi kereta api. Memang sialnya ga abis-abis. Ketangkapnya sih bukan diatas kereta tapi di peron stasiun Jhansi padahal ku lihat banyak juga yang merokok tapi karena muka melayu jadi ketauan kalo bukan orang India, kesempatan jadinya buat pak polisi nambah uang untuk beli chai. Pertama dia mo denda Rs 1000 tapi aku pura-pura ga tau aja kalo di kereta dilarang merokok, padahal aku tau kalo ketangkap dendanya cuma Rs 500. Jadi terpaksa pakae ilmu turis, pura-pura ga tau. Tapi waktu dia bekeras mo ngedenda Rs 1000 terpaksa agak keras juga. Masakan dikiranya aku ga bisa baca. Dibawanya aku ke pamflet larangan merokok, nah disitu tulisannya denda cuma Rs 500, dianya minta Rs 1000. Jadinya sambil maki-maki polisi sial itu bayar juga denda Rs 500. yah minimal ada pelampiasan emosi bisa maki-maki polisi. Dia sih diam aja soalnya udah dapat uang, bangsat!

Untunglah! Memang orang Indonesia sial juga dibilang untung. Di Jhansi akhirnya dapat bangku walau cuma untuk dua jam. Memang Jhansi cuma sekitar dua jam dari Gwalior. Yah, lumayan bisa ngistirahatkan kaki karena udah capek berdiri, jongkok atau duduk dilantai beralaskan koran dari jam tujuh pagi sampai jam tiga pagi. Tapi ga berani tidur soalnya takut kelewatan stasiun. Dan jam lima pagi sampai juga akhirnya di Gwalior. Dinginnya? Lebih dingin!
Kalo mamakku tau nasib anaknya kayak gini di India, bias nangis dia!

Read More......

PUSARAN

Bayang-bayang yang jalang membentang
Menghalang memenuhi ruang
Seperti sirna hilang diujung petang
Layaknya pedang yang membelah padang

Benak bunyak kian melunak
Penuh pernak runtuhan dedak
Jejak-jejak wajah mendongak
Tak pelak akan meledak

Berkisar dan berkisar dan berkisar
Kerap berputar di dalam pusar
Biar dikejar takkan mencapai dasar
Hanya semakin besar rasa gusar

Walau menjerit seperti berderit
Kernyit dikening menjadi sembelit
Lari terbirit-birit sambil mencicit
Ujung arit tetap terselit

Suara gemuruh kian menjauh
Rasa jenuh semakin merengkuh
Warna peluh sudah berubah keruh
Meluruh dan meluruh hingga tak tersentuh

Pelita padam tak tinggalkan cerita
Suara-suara yang menyeruak dari tengah bejana suasa
Ditengah telaga, ditengah samudera atau disudut dunia
Berita yang sama membuai tanpa rasa

Mereka, mereka dan kita semua
Tenggelam dan terbenam di gelombang masa
Menggapai dan meronta
Melonjak menggaruk udara yang tak ada





Read More......

Thursday, February 08, 2007

HUSAIN SAGAR

Udah pernah ke India? Kalo blom paling tidakkan udah pernah dengar. Sekarang ini aku sedang belajar di India, tepatnya di Central Institute of English and Foreign Language (CIEFL)-Hyderabad. Tapi sekarang aku ga cerita tentang CIEFL tapi tentang Hyderabad. Waktu pertama kali datang kali datang ke Hyderabad perasaan agak bingung juga karena itu kali pertama aku berada di negeri orang. Kalau liat orang-orangnya sih ga bingung karena di umah juga aku punya beberapa tetangga dan teman keturunan India yang biasa disebut ‘KELENG’. Tapi gitu dengar bahasanya agak bingung karena terasa seperti bahasa dari planet di galaksi antah berantah. Bahasanya bukan seperti bahasa India yang kudengar di TV atau temanku yang ‘keleng bicara’. Bahasanya bukan Hindi, Tamil atau Punjab yang walaupun aku ga tau artinya tapi minimal sedikit akrab di telinga.


Bahasa yang umum dipakai di Hyderabad dan daerah sekitarnya adalah bahasa Telugu. Daerah-daerah yang bicara bahasa ini namanya Telengana di seputaran Andhra Pradesh. Nah, Hyderabad itu ibukotanya Andhra Pradesh yang termasuk salah satu negara bagian di ‘southern region’ India. dulunyyderabad sering dengar namanya tapi yang baru aku tau, rupanya Hyderabad itu kota kembar. Apa yang umum orang tau sebagai Hyderabad adalah gabungan antara Hyderabad dan Secunderabad, nah tempat tinggal ama kampusku itu di wilayah Secunderabad. Sampai sekarang ga bisa juga aku ngomong bahasa ‘planet’ ini mungkin karena lingkunganku biasanya make bahasa Inggris.


Waktu pertama kali disini ada perasaan bosan juga karena selama hampir 2 bulanan ga ada kerjaan, solahnya blom mulai. Jadi kerjaannya ya, kalo ga nonton TV, tidur. Sampe kawanku yang orang Uzbek ngajak ke Husain Sagar. Kirain Husain Sagar itu orang tua yang bisa baca masa depan karena di India banyak orang suci, jadi mana tau si Husain termasuk salah satunya. Tapi rupanya Husain Sagar itu nama danau. Uniknya danau Husain Sagar itu terletak tepat di tengah kota Hyderabad. Memang danaunya kecil kalo dibandingkan Danau Toba karena kalo ga salah garis tengahnya kurang lebih 1 km. Lumayan juga tempatnya untuk nyuci mata karena disekeliling danaunya banyak dibuat patung tokoh-tokoh legenda India dan ciri khas danau itu patung Buddha yang terletak di tengah danau buatan tepat di tengah-tengah danau.


Dari jauh juga patungnya bisa diliat karena besarnya, tingginya lebih 20m. Kalo mo ke pulau itu bisa naik ferry penyeberangan dan kalo punya uang lebih bisa nyewa speedboat sambil keliling-keliling danau. Kalo malas ke patung Buddha bisa juga duduk-duduk di trotoar sekelilingt danau, bukan duduk di bawah kayak gembel yang banyak dimana-mana di India tapi di bangku yang banyak terdapat di sepanjang trotoar. Paling enak ke Husain Sagar sore biar ga kepanasan ato kalo mau sambil makan bisa juga nongkrong di Eat Street di sebelah barat danau. Lumayan sambil liat matahari terbenam bisa milih macam-macam makananmulai dari makanan India sampe makanan import dan nikmati hembusan angin yang lumayan kencang. Cuma siap-siap aja karena kadang anginnya bau ga enak. Sayangnya danau Husain Sagar di pakai juga untuk nyalurin air kotor jadi yah maklumlah!

Sekali dalam setahun ada perayaan hari Ganesha, nah kalo Hyderabad pusat perayaan itu di Husain Sagar. Perayaannya sekitar pertengahan Agustus. Kalo suka kerumunan orang, event ini ga boleh dilewatin karena bisa ratusan ribu orang numplek di Husain Sagar. Ceritanya patung Ganesha yang udah selesain acara ulang tahunnya di pelosok kota di bawa ke Husain Sagar untuk dicemplungi ke danau. Biasanya 2-3 hari setelah acara selesai ikan-ikan yang ada didanau pada bematian karena patung itu banyak kandugan bahan kimianya.
Ada banyak lagi tempat wisata di seputaran Hyderabad kayak Birla Mandir, Golconda Fort, danau Nagarjuna Sagar, Ramoji Film City dan landmark Hyderabad, Charminar.

Read More......