Monday, November 05, 2007

BERHENTI

Pergi dan berjalan membelah bumi.
Langkah-langkah itu tetap menggelora, meregang, menohok.
Bencah-bencah yang mengotori tapak cuma remah
:tak mengenyangkan, tak memuaskan
tak juga menyenangkan

Benang yang ditarik semakin panjang.
Merah menyala dan membara
tapi tak membakar seperti api yang melepuhkan
memanaskan, menghangatkan

Kalau tetap bertanya, untuk apa jawaban?
Kalau tetap Berjalan untuk apa langkah?
Kalau tetap menangis untuk apa air mata?

Merang disawah mulai membusuk.
Burung dipohon mulai beterbangan.
Bunga-bunga mulai luruh dan menjadi tanah.
Dan tanah mulai tergerus angin
terbang mengabu di ranah-ranah yang tak pernah disentuhnya.

Kasar dan menjelaga
:warna telapak mengasah bebatuan, meremuk jarak.
Dupa-dupa mengaroma membuka indera, meretas sukma.
Melayang dan mengambang di antara dedaunan.
Mengangkasa ditemani nada.

Mendarat dan mendarat.
Tergeletak dan menyelepah.
Meliuk dan patah.




Read More......

Friday, November 02, 2007

SESAT?

Dari waktu ke waktu,begitu banyak bermunculan dan berkembang aliran-aliran sektarian yang dianggap sesat oleh masyarakat baik ditopang dengan ketetapan hukum maupun tidak di Indonesia. Dari mulai Darul Arqom, Ahmadiyah, Komunitas Eden hingga yang teranyar aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Musshadeq yang baru saja ditetapkan sebagai sesat oleh MUI.

Fenomena ini bukanlah hal yang baru dalam pejalanan sejarah Islam di Indonesia. Kisah Syech Siti Jenar yang dihukum pancung oleh para Wali Sanga di Kerajaan Demak mungkin dapat kita tarik sbagai titik awal kekuatan negara dalam menertibkan atau dengan kata yang lebih kasar menindas aliran-aliran yang dianggap menyimpang dari ajaran agama utama. Namun jika ditelaah lebih dalam, apakah yang menjadi penyebab suburnya aliran-aliran sempalan ini dalam konteks Indonesia?

Dari awal kedatangan Islam di Indonesia, unsur sinkretisme agama sangat kental mempengaruhi perkembangan agama Islam. Pada masa awal, masyarakat di wilayah nusantara adalah masyarakat penganut agama Hindu dan Budha serta berbagai sistem kepercayaan lokal yang telah lebih dulu ada di tengah masyarakat. Paham monoteistik Islam sangat jauh berbeda dengan sifat politesitik Hindu/Budha serta sifat panteistik sistem kepercayaan lokal. Perbedaan ini pada masa awal penyiaran Islam di Indonesia mengalamai proses sinkronisasi dimana sebagian dari ritual ajaran lama diambil dan menjadi bagian dari ritual agama baru.

Bagi kebanyakan pemeluk agama baru, sinkretisme muatan lokal ini dalam banyak kasus menjadi hal yang utama dibandingkan dengan rukun-rukun yang seharusnya menjadi amalan utama dari agama yang dianutnya dalam hal ini Islam. Hingga saat ini, bentuk sinkretisme ini juga masih banyak dirayakan ditengah masyarakat seperti berbagai acara "grebeg", "larung", dan lain-lainnya. Kegiatan ini jika tidak dilakukan dianggap dapat membawa bencana bagi masyarakat yang mempercayainya. Bentuk praktek ini dapat dianggap sebagai bentuk sinkretisme politeistik/panteistik kedalam ajaran agama Islam karena dalam setiap prakteknya sebagian menggunakan doa-doa dalam agama Islam. Dalam perayaan ini bentuk penyearahan diri terhadap ilah-ilah yang dipuja diberikan dalam bentuk pemujaan fisik. Dan pemujaan kuburan-kuburan keramat dapat kita telaah juga sebagai salah satu bentuk sinkretisme tersebut dimana yang dianggap sebagai pemberi rahmat adalah leluhur-leluhur yang dianggap memiliki kelebihan spiritual.

Dari sisi psiko-sosiologis, menjamurnya aliran-aliran ini juga dapat disikapi sebagai terjadinya perkembngan negatif measyarakat dalam menghadapi perubahan-perubahan disekitar mereka. Ketidakpastian kehidupan membuat banyak dari anggota masyarakat yang mengalami keguncangan pegangan hidup dan krisis keimanan. Janji-janji akan kehidupan yang lebih baikdi dunia dan kehidupan yang akan datang yang diharapkan merupakan pencapai "taken for granted" atau datang begitu saja tanpa ada usaha-usaha untuk menggapainya. Saat janji-janji terasa semakin jauh maka para penganut agama di masyarakat mencoba mencari pegangan-pegangan lain yang sepertinya dapat memberikan jalan pintas ke tujuan akhir.

Kurangnya pemahaman menyeluruh seorang penganut agama juga merupakan salah satu faktor tumbuh kembangnya aliran-aliran sempalan ini. Pemahaman menyeluruh terhadap ajaran agama menjadi kunci penting dalam menangkal masuknya pemahaman agama yang menyimpang. Terkadang saat seseorang yang tidak memiliki cukup kemampuan dan pengetahuan mengenai ajaran suatu agama memaparkan agama tersebut, yang terjadi adalah keluarnya dalil-dalil yang menyimpang yang digunakan orang tersebut untuk memutupi kekurangannya.

Bagi penganut agama, politisasi agama juga merupakan salah satu penyebab hilangnya kepercayaan terhadap agamatersebut. Di Indonesia, sejak terbuka lebarnya pintu demokratisasi, begitu banyak tokoh dan cendikiawan agama dalam hal ini Islam, terjebak dalam praktek politisasi agama. Saat sang tokoh melakukan penyimpangan baik secara sadar maupun tidak maka yang pertama kali menjadi bahan sorotan adalah agama yang ia gunakan sebagai kendaraan. Hal ini akanmenyebabkan pemeluk agama tersebut yang masih berada di area abu-abu atau pemeluk dengan pemahaman sempit dan ditambah dengan faktor keimanan yangkurang akan menyebabkannya makin kehilangan pegangan terhadap kepercayaan dan keimanannya.

Pada banyak kasus, pengikut utama aliran-aliran ini adalah kaum muda yang ada di bangku pendidikan. Pada tingkat ini, kaum muda ini masih dalam proses pencarian jati diri. Dengan sifat kritisnya, kaum muda banyak mempertanyakan penyimpangan-penyimpangan yang mereka anggap terjadi di agama yang selama ini mereka anut dan yakini.

Dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV nasional, Azumardi Azra seorang tokoh cendikiawan muslim Indonesia mengutarakan bahwa dibutuhkan kearifan tokoh agama dan organisasi-organisasi Islam baik yang besar maupun kecil untuk melakukan pendekatan ang mendasar terhadap umat terutama kepada kaum muda. Cara-cara konvensioanal yang digunakan selama ini dalam siar Islam dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan zaman. Dibutuhkan cara-cara baru dalam siar Islam agar mampu menarik minat dan perhatian umat.

Penyelesaian-penyelesaian konfrontir terhadap aliran-aliran ini seperti yang selama ini dilakukan bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalaha ini. Umum diketahui bahwa dalam setiap paham baru pasti tumbuh unsur-unsur fanatisme. Pendekatan represif hanya akan melahirkan martir-martir baru yang dapat menjadi sumbu penyulut perlawanan. Seharusnya pendekatan dialogis dari hati ke hati lebih dikedepankan untuk menyelesaikan masalah ini. Pendekatan ini lebih bermanfaat dibandingkan dengan hukum yang memberikan label sesat bagi aliran-aliran ini. Karena pendekatan ini lebih berdasarkan hukum HAM yang diterima secara universal dan Undang Undang Dasar kita juga telah menjamin hak bagi setiap warga negara untuk berserikat dan menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing terutama setelah penghapusan daftar agama yang diakui negara.

Peran serta masyarakat juga menjadi penting dalam melakukan pembinaan bagi pengikut aliran-aliran ini dengan mengesampingkan jalan-jalan kekerasan. Dengan catatan bahwa kata "pembinaan" dimaknai sebagai bentuk penerimaan dan pengarahan dengan jalan-jalan damai bukan dengan makna penghukuman sebagaimanamakna yang melekat kuat dengan kata tersebut selama ini.


Read More......

Wednesday, October 31, 2007

SUMPAH PEMUDA

28 Oktober sekali lagi diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda oleh seluruh bangsa Indonesia, khususnya para oleh kaum muda Indonesia. 28 oktober selalu digadang-gadangkan sebagai salahsatu tonggak awal kebangkitan rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang pada saat itu maih berada dalam kungkungan pengaruh imperialis Belanda.

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-79 tahun ini ada sesuatu yang terasa baru walaupun dengan racikan bahan yang itu-itu saja. Bertempat di gedung Arsip Nasional dengan dimotori oleh Meneg Pora Adhyaksa Dault, elemen pemuda Indonesia sekali lagi mengungkapkan ikrarnya dengan nama Deklarasi Pemuda Indonesia. Dengan deklarasi ini para pemuda Indonesia para pemuda Indonesia pada hakikatnya ingin menyatakan bahwa sekaranglah saatnya tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini harus diserahkan kepada mereka. jargon ini bukanlah hal yang baru karena memang dari tahun ketahun keinginan yang sama selalu diutarakan.

Selalu dan selalu diungkapkan dalam setiap kesempatan bahwa bangsa yang ingin menjadi bangsa yang maju harus memberikan yang besar bagi kaum mudanya untuk bertumbuh kembang dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pemikiran mereka yang revolusioner dan inovatif, para pemuda memiliki kemampuan untuk merubah suatu tatanan masyarakat yang stagnan menuju arah yang lebih baik. Pemuda juga memiliki energi yang cukup untuk mewujudkan cita-cita inovatifnya jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang digolongkan sebagai kaum tua.

Memang pada saat ini yang diperlukan oleh bangsa ini adalah peikiran inovatif yang berani dan mampu untuk mendobrak pragmatisme yang telah bercokol terlalu lama dan telah menjadi norma dalam tatanan kehidupan masyarakat terutama dibidang politik. Dan terutama dibidang inilah dibutuhkan pemikiran-pemikiran inovatif tersebut dan juga idealisme para emuda yang belum diwarnai oleh embel-embel ekonomi.

Dimanapun di dunia ini, politik selalu dianggap sebagai bentuk investasi yang diharapkan dapat memberikan imbal hasil yang besar. Imbal hasil yang terbesar adalah terciptanya suatu tatanan masyarakat yang madani dan tercerahkan. Imbal hasil ini hanya dapat diraih jika kehidupan politik dianggap sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya akan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.

Namun di Indonesia dan umumnya negara berkembang, politik selalu dianggap dan diperlakukan sebagai bentuk investasi jangka pendek yang berorientasi ekonomi. dan untuk mendapatkan imbal hasil ekonomi inilah praktek ragmatisme politik berkembang. Dan demi pemenuhan imbal hasil ekonomi ini, pencapaian besar di masa depanlah yang pertama kali dikorbankan.

Setiap pergerakan dan keputusan politik hari ini seharusnya memberikan dasar-dasar yang lebih kuat untuk pergerakan dan keputusan politik di masa depan. Namun kebalikan dari apa yang diharapkan tersebut, banyak, jika tidak ingin disebut semua, pergerakan dan keputusan politik hari ini yang akan membatasi gerak dinamik kehidupan di masa depan.

Banyak keputusan-keputusan politik yang dikeluarkan dengan dasar pemikiran yang berandai-andai. Sebagai contoh adalah bahwa yang berhak untuk menduduki posisi di komisi-komisi yang berfungsi sebagai badan pengawas kehidupan bernegara adalah mereka-mereka yang berumur minimal 40 tahun tanpa ada batas atas. Jika dicermati lebih dalam, pembatasan ini tidak memiliki dasar pemikiran yang benar-benar solid. Diandaikan bahwa orang-orang yang berumur dibawah 40 tahun tidak memiliki kemampuan dan cukup pengalaman untuk mengemban tanggung jawab dalam komisi-komisi tersebut. Dan pada akhirnya, tanpa menuding orang perorang, komisi-komisi tersebut berfungsi lebih sebagai badan pengumpul pensiunan. Tanpa merendahkan kemampuan orang-orang yang dipilih untuk duduk dibadan-badan bentukan pemerintah tersebut, banyak dari generasi muda yang cukup memiliki kemampuan untuk menjalankan roda kehidupan kemasyarakatan.

Keterbatasan akses bagu kaum muda untuk melakukan perubahan di masyarakat secara signifikan akan melahirkan rasa gelisah diantara kaum muda tersebut. kegelisahan-kegelisahan ini menemukan jalan penyalurannya melalui jalur-jalur sub-altern society yang kental dengan paham sektarian fundamentalis dan primordialisme sempit. Partai-partai politik yang seharusnya berfungsi sebagai garis terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat terutama dalam hal ini generasi muda, lebih mengedepankan keinginan-keinginan elitenya untuk mempertahankan dan/atau memperebutkan hegemoni kekuasaan tanpa ada alih generasi ideologis.

Alih generasi ideologis harus lebih dikedepankan didalam lembaga politik yang ada saat ini sehingga pemimpin-pemimpin di masa depan memiliki idealisme dan integritas tinggi untuk menjalankan roda kemasyarakatan bukannya seperti yang berkembang saat ini dimana generasi muda yang berada dalam lembaga-lembaga politik tersebut dihadapkan dan dibiasakan dengan pragmatisme politik. Keterbiasaan dan penerimaan pragmatisme politik norma hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak memiliki karakter.

Disisi lain, penyaluran aspirasi generasi muda melalui jalur-jalur sektarian dan prmordialistik juga akan menyebabkan keroposnya sendi-sendi kemasyarakatan. Pemimpin yang berpaham sektarian dan primordialistik hanya akan menjadi pemimpin yang berpikiran sempit tanpa dapat menerima atau resisten terhadap perbedaan dan perubahan-perubahan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini. Pemuda seharusnya mendapatkan paparan yang seimbang terhadap paham-paham yang ada di masyarakat bukannya hanya terhadap satu dua paham yang eksklusif. Paparan inisangatlah penting dalam proses pembentukan pemimpin di masa depan agar para kaum muda ini mengetahui dan memahami secara menyeluruh kelebihan dan kekurangan dari setiap paham.

Kembali kepada keterbukaan akses bagi generasi muda kedalam kekuasaan mainstream, pencalonan independen merupakan salah satu jalur terbaik yang dimiliki generasi muda. Dalam sistem ini generasi muda dapat memajukan calon yang mereka anggap memiliki kemampuan dan dapat membawa aspirasi mereka untuk perubahan. Dengan jaringan yang mereka miliki dan kriteria-kriteria mereka yang mungki berbeda dari apa yang dimiliki oleh lembaga-lembaga pencalonan yang telah mapan, generasi muda dapat memberikan warna yang berbeda dalam dinamika kehidupan kemasyarakatan. Ciri khas generasi muda yang inovatif dan idealis merupakan nilai lebih yang dapat mereka tawarkan saat berhadapan dengan kemapanan.

Dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, setiap perubahan selalu dimotori oleh kaum muda yang telah bosan menunggu datangnya perbaikan. Demilian pula dengan bangsa Indonesia, selalu diwarnai oleh pergerakan kaum muda. Namun selalu saja hal yang sama terulang dimana visi jauh kedepan kaum muda ditunggangi dan dinikmati oleh pragmatisme yang menjadi norma dan kebiasaan. Oleh sebab itu dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan Deklarasi Pemua Indonesia, sekaranglah saatnya bagi para pemuda untuk bersatu padu guna mencapai perubahan signifikan kearah perbaikan dengan menghilangkan sifat pragmatis dan mengedepakan karakter yang idealis dan berintegritas tinggi.

HIDUP PEMUDA INDONESIA!



Read More......

Tuesday, July 03, 2007

DIAN YANG TAK KUNJUNG NYALA

Telah hampir dua minggu sejak menginjak kembali tanah kelahiran dan sepertinya harapanku saat jauh dinegeri seberang tidaklah menemukan hasil. Dulu saat akan pergi kepertapaanku banyak harapan besar kalau nantinya negeriku tercinta menjadi lebih baik daripada saat ku tinggalkan. Namun apa daya harapan cuma tinggal harapan.

Secara semesta, bangsa ini masih sibuk berkutat dengan yang itu-itu saja. Kebanyakan elite politik di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini masih sibuk tentang pembagian hasil 'kerja keras' mereka. Perkutatan para priyayi ini lebih banyak memberikan kemudaratan bagi para rakyat jelata tanpa ada fungsi konkrit ditataran bawah.


Para rakyat besar digedung besar lebih sibuk dengan tarik ulur untuk memanggil pemangku amanat karena keberpihakan melawan negaeri lain, sedangkan masih banyak atap-atap bocor dan dinding-dinding bolong dipadepokan-padepokan dipelosok negeri. Masih banyak kurcaci-kurcaci kecil yang membelitkan tali dileher karena upeti kepada sang empu tak dapat terpenuhi.

Sekarang begitu banyak masalah kecil yang dibesar-besarkan dan masalah besar yang dikerdilkan. Hanya untuk menuliskan serat-serat untuk mencari pengganti mereka, para duta-duta rakyat meminta tambahan untuk tembolok mereka. Sedangkan orang-orang yang mereka suarakan harus mengetatkan sabuk mereka karena untuk mendapatkan sepiring dahar harus semakin banyak mengeluarkan pundi-pundi yang semakin mengecil.

Para raksasa penculik bayi yang lari ke seberang lautan atau bersembunyi dibalik lebatnya hutan persada belum juga dapat ditemukan. Bahkan saat mereka berjalan diterang bulan, tangan-tangan punggawa negeri tak juga dapat menjamah para raksasa itu. Bayi-bayi yang seharusnya dapat menjadi sesajen untuk kebaikan desa juga hilang tak jelas dimana rimbanya. Yang tertinggal hanya orang-orang desa yang ketiban sial karena harus mencari sesajen baru.

Dan jika harus dirunut terus, begitu banyak soal yang tak selesai dan mengkin takkan selesai.

Ditataran bumi, saat ku menjejakkan kaki di persada nusantara begitu banyak kerusakan dan kemunduran disepanjang pertapakanku. Pembangunan seharusnya merupakan kegiatan yang menunjukkan hasil atas sesuatu yang dibangun. Tapi disepanjang pertapakan yang terlihat hanyalah keadaan yantg semakin hancur.

Dian yang tak kunjung padam sekarang seakan menjadi dian yang tak kunjung nyala. Dan semakin banyak terlihat mereka-mereka yang berjalan tertatih-tatih ditimpa beban yang semakin berat tak berkurang. Nyiur-nyiur memang masih tetap menari gemulai tapi gemulainya bukan karena estetika seni tapi karena memang terpaksa untuk mengirit tenaga.

Memang sepasang putaran matahari bukanlah waktu yang panjang. Untuk semut mungkin jangka itu terasa panjang dan lama. Tapi untuk mereka yang berjalan dengan dua kaki dan tubuh yang ditutupi secarik kain, masa itu adalah masa yang sangat pendek. Tapi mungkin cukup untuk menciptakan sedikit perubahan-perubahan baik dan juga sedikit kerusakan-kerusakan kecil.


Read More......

Thursday, June 07, 2007

INGATKAN AKU

Nanti, waktu kita pulang
Ingatkan aku merdunya petikan gitar di gardu ujung gang
Nanti, saat kita sampai di gerbang rumah
Ingatkan aku betapa wajah tak banyak berubah
Ingatkan juga betapa mendayu panggilan dari surau di ujung jalan
Ingatkan aku jika kau juga masih ingat




Apa kau masih ingat apa yang kita tinggalkan?
Jalan-jalan yang ku ingat penuh dengan lobang-lobang menganga
Aku lupa apakah ada suara burung dari semak di samping rumah
Samar terbayang warna air yang mengalir di tepian tempat kita berenang
Nanti, saat kita pulang tolong ingatkan aku
Ingatkan aku jika kau juga masih ingat

Buih-buih mungkin datang dan menghilang
Tapi apa kau percaya kalau ku katakan riak selalu ada dan tak pernah menghilang
Coba dengarkan nyanyian-nyanyian itu
Suara yang menyenandungkan tak lagi sama
Tapi nada dan lagu tak pernah berbeda
Cerita yang sama, tangis yang sama





Read More......

Sunday, June 03, 2007

LUCK IS WHAT MAKE ME SPECIAL

Setiap manusia dilahirkan berbeda satu sama lainnya. Tidak ada dua manusia dimuka bumi ini yang benar-benar mirip dan sama bahkan dua anak kembar identik pasti memiliki perbedaan baik dalam ciri-ciri fisik maupun perwatakan. Dan setiap perbedaan inilah yang memberikan keistimewaan bagi tiap-tiap individu.


Kenapa aku istimewa dibandingkan dengan manusia-manusia yang lain? Dari dulu aku tak pernah berpikiran bahwa aku memiliki keistimewaan kalau dibandingkan dengan orang-orang yang ku kenal. Alasan utamanya karena aku takut untuk menjadi besar kepala dan ‘over confident’ saat menghadapi hal-hal yang aku anggap aku memiliki keistimewaan didalamnya. Banyak diantara orang-orang yang kukenal yang dianggap memiliki keistimewaan disuatu bidang menjadi besar kepala dan melihat orang lain yang kurang mampu dibandingkan dirinya dengan mata mengecil.

Dalam pengertianku, keistimewaan seseorang adalah kemampuan lebih seseorang dalam suatu bidang. Mungkin ada orang yang sangat tanggap dalam bidang-bidang yang memerlukan keahlian otak tapi ada juga orang-orang yang lebih tanggap dalam bidang-bidang yang membutuhkan koordinasi fisik tinggi. Jadi seorang yang memiliki gelar Phd dalam sepuluh bidang yang berbeda belum tentu lebih istimewa dibandingkan dengan seorang pengemudi becak. Sang terdidik mungkin dengan mudah menyelesaikan permasalahan akademik tapi saat harus mencari jalan yang bebas kemacatan lalu lintas belum tentu dia lebih tahu daripada si abang becak.

Tapi kalau ku pikir-pikir, aku memang memiliki keistimewaan yang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Dan keistimewaannya! Aku selalu memiliki hidup yang penuh dengan keberuntungan. mungkin keistimewaan ini dianggap absurd karena keberuntungan adalah hal yang tidak bisa dan tidak memiliki suatu ukuran pasti. Mungkin yang ku anggap keberuntungan bagi yang lain hanyalah kebetulan semata. Tapi terkadang dalam beberapa hal faktor keberuntung adalah hal yang paling menentukan. Dan memang faktor ini adalah faktor utama dalam segala pencapaianku.

Aku selalu merasa bahwa aku selalu berada di waktu dan tempat yang tepat. Dan mungkin perasaan ini dimulai saat aku berada dibangku SMU. Dan keberuntungan ini pastinya terdengar seperti keberuntungan yang kurang ajar karena keberuntunganku dimulai dengan meninggal dunianya bapakku. Tapi bukankah sengsara dapat membawa nikmat seperti buku karangan Tulis Sutan Sati? Mungkin kalau bapakku tidak meninggal saat itu, pendidikan SMUku takkan selesai karena sampai saat itu aku tak pernah berpikir tentang perlunya menyelesaikan pendidikan. Dari skorsing dan pemecatan di SMU pernah kurasakan dan itu juga tidak menyadarkanku yang cukup dalam terbenam dalam kecanduan narkoba dan segala kenakalan remaja lainnya. Jadilah dengan terbentur disana sini selesai juga pendidikan dasarku.

Nah, dibangku kuliah keberuntungan masih juga menyertaiku. Mungkin kalau teman-teman yang mengenalku takkan percaya kalau ku katakan kalau aku selesai kuliah karena keberuntungan. Memang secara akademis aku tidak jauh-jauh tertinggal dari teman-temanku yang lain dan bisa dikatakan lebih dibandingkan teman-teman dekatku. Tapi penyakit lama kambuh lagi. Tapi beruntung aku kenal seorang teman yang sayangnya tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Sewaktu kuliah aku punya teman dekat bernama Tasya dan mungkin dia sempat cerita ke bapaknya tentangku. Jadi setiap bertemu dengan bapaknya, bapaknya selalu tak lelah-lelahnya untuk mengingatkanku untuk menyelesaikan kuliahku. Setiap bertemu bapaknya selalu bilang “semester ini serius aja, nanti semester depan baru main lagi”, sampai aku bosan mendengarnya tapi lama-lama masuk juga keotak karena hampir tiap hari dan tiap semester mendengar perkataan yang sama. Karena beruntung kenal dan dinasehati ole bapaknya si Tasya selesai juga akhirnya S1ku walaupun molor satu tahun.

Saat selesai kuliah aku tak pernah serius untuk mencari kerja, walaupun banyak teman-temanku yang pontang-panting mencari pekerjaan tapi waktu itu aku sih santai aja. Soalnya kalau masalah keuangan gampang memang bukan dapat dari mamakku karena memang setelah selesai kuliah semua tunjangan juga turut tamat. Kalau uang selalu ada yang datang sampai aku sendiri tak tahu darimana datangnya tapi jangan ditanya haram halalnya yang penting rokok lepas.

Beberapa bulan setelah tamat kuliah terjadi bencana tsunami yang menelan ratusan ribu korban dan banyaklah NGO-NGO luar negeri yang datang ke Indonesia dan hampir semua menjadikan Medan sebagai pusat kegiatannya dan kebetulan aku tinggal tak jauh dari Medan. Awalnya memang aku ada mengirimkan lamaran ke salah satu NGO yaitu MSF-Ch tapi setelah lama tak ada juga panggilan. Salah sorang temanku mendapatkan panggilan interview dan dia memintaku untuk menemaninya ke kantor NGO itu yang saat itu berada di Hotel ASEAN. Nah, si bule yang menginterview temanku itu salah tanggap dan menganggapku juga datang untuk interview kerja dan akhir dapatlah aku pekejaan di NGO itu. Setelah beberapa minggu aku dipindahkan dari Medan ke Pulau Simeulue, Aceh. Dan beruntungnya aku punya abang sepupu yang menjadi perwira POLRI di pulau itu jadi dalam setiap pekerjaan yang harus berhubungan dengan birokrasi gampang untuk diatur dan dikantor aku mendapat review yang baik karena setiap pekerjaan selalu selesai dengan baik padahal aslinya mengandalkan koneksi. Yah, tahulah kalau di Indonesia kalau tanpa koneksi yang dapat pastinya cuma jalan buntu.

Dari mulai mengenal yang namanya bea siswa, aku selalu memiliki keinginan untuk mendapatkan fasilitas ini. Karena dalam pandanganku apalagi saat masih dibangku pendidikan dasar, setiap murid yang mendapatkan bea siswa selalu dianggap sebagai murid-murid istimewa. Tapi sayangnya dari dulu tak pernah aku bisa mendapatkan bea siswa mungkin karena alasan budi pekerti. Memang dari SD sampai kuliah aku selalu menjadi murid yang pembangkang jadinya kecil kemungkinan unutk mendapatkan bea siswa karena pasti sulit bagiku untuk mendapatkan penilaian yang baik dari guru-guru terutama dalam bidang budi pekerti. Sampai saat aku selesai kuliah, dimana waktu itu dosen pembimbing skripsiku menganjurkanku untuk mendaftar program bea siswa ICCR ke India tapi pada awalnya agak malas juga karena aku sudah merasa jenuh untuk belajar dan membuka-buka buku pelajaran. Tapi untuk menunjukkan rasa apresiasi kepada sang dosen pembimbing jadilah aku mendaftar untuk program itu. Tepat saat kontrakku dengan NGO tempatku bekerja selesai, eh, malah aku dapat panggilan dari Konjen India yang di Medan bahwa aku mendapatka bea siswa untuk mengambil S2 di Central Institute of Foreign Language, Hyderabad. Dan saat ini setelah dua tahun masa belajarku telah selesai dan dalam waktu kurang dari dua minggu dari posting ini aku akan kembali kerumah.

Yah, memang keberuntungan selalu menyertaiku sampai saat ini. Karena keberuntungan aku bisa tamat sekolah sampai jenjang master. Dan karena keberuntungan juga aku bisa melihat negeri lain mungkin tanpa keberuntunganku seumur hidup belum tentu bisa datang dan tinggal di negara selain Indonesia. Yah, memang keberuntungan selalu menyertaiku sampai saat ini dan entah untuk nanti dan karena keberuntunganlah aku menjadi istimewa kalau dibandingkan dengan yang lain. Dan satu keberuntungan yang kita miliki bersama, kita hidup dan bernafas.

Read More......

Wednesday, May 30, 2007

SELAMAT PAGI

Saat pertama kali mata terbuka di pagi hari, pikiran apa yang pertama terlintas? Yang pertama pasti pikiran untuk segera lompat dan berlari ke toilet untuk mengosongkan simpanan semalam. Atau bisa juga pikiran kesal karena terbangun dari mimpi indah yang serasa seperti nyata. Menarik kembali balutan selimut yang terlepas dan pelukan bantal yang melonggar.
Bangun tidur seharusnya adalah waktu yang terbaik sepanjang hari. Saat kita terbangun di pagi hari, tubuh serasa seperti baterai yang telah terisi penuh. Semua beban yang memberati di hari kemarin telah berkurang atau paling tidak sedikit terlupa untuk beberapa saat.

Di pagi hari saat kita terbangun biasakan untuk sekedar berbaring selama sepuluh sampai lima belas menit. Waktu yang tidak begitu lama disaat yang lain adalah waktu yang cukup panjang yang diperlukan tubuh dan pikiran untuk menyesuaikan ritme gerak dengan kebutuhan hari itu. Santai dan coba tentukan rencana hari itu. Coba buat urutan prioritas hari itu. Apa yang pertama dilakukan. Apakan setelah mandi akan memasak nasi goreng dari nasi sisa semalam atau sekedar membeli lontong di warung ujung gang. Tak perlu membuat rencana yang rumit untuk waktu 24 jam, cukup pikirkan apa yang akan kita lakukan untuk waktu dua jam kedepan.
Setelah waktu yang sepuluh sampai lima belas menit itu habis, bangun dan berjalanlah kearah jendela. Buka tirai dan daun jendela kemudian tarik nafas panjang. Walaupun bau dari got sebelah rumah namun coba perhatikan, bahkan bau dari got itu lebih menyengat di siang hari dibandingkan saat anda terbangun dengan udara yang bersih selain yang keluar dari got sebelah rumah. Polusi dari jalan raya depan runah belum sepekat dua jam yang akan datang. Jadi gunakan waktu yang pendek itu untuk menghirup udara yang lebih segar dibanding yang nanti akan dihirup disaat kita akan berangkat dari rumah untuk memulai kegiatan hari itu.
Jika tetangga sebelah rumah yang jendela kamarnya langsung berhadapan dengan jendela kamar kita juga terlihat menongol menghirup udara pagi dari got yang sama, coba sapa. Karena memberi atau menerima sapaan ramah di pagi hari adalah pertanda baik untuk memulai kegiatan hari itu. Sekedar bertanya apa hasil pertandingan sepak bola yang disiarkan langsung di TV tadi malam atau bertanya ada mimpi apa tadi malam, cukup untuk mendekatkan keakraban antar tetangga.

Selesai basa-basi, mandi dan gosok gigi karena jika tak ada got yang membatasi jendela kita dan jendela tetangga, sang etangga pasti bisa mencium bau tak sedap dari liur yang mengering. Atau jangan dulu ke kamar mandi. Lanjutkan kontemplasi pagi itu. Menghisap sebatang rokok sambil berjongkok diambang pintu juga merupakan pilihan yang cukup menyenangkan. Sambil menghisap sebatang kretek, kita bisa memperhatikan lalu lalng para tetangga ang berangkat ke sekola, ke kantor atau ke pasar.

Dari ambang pintu, kita bisa sayup-sayup mendengar klotang klonteng dari dapur rumah sebelah saat sudet beradu dengan penggorengan atau para ibu-ibu yang mengeluh pada penjual sayur tentang harga bahan makanan yang semakin mahal dan kualitas yang semakin buruk. Atau bisa juga mendengar si Ucok kecil anak bang Tongat yang menangis karena dimandikan oleh ibunya dengan air dingin.

Cukup satu batang rokok, jangan terbuai dan menghabiskan berbatang-batang karena ingat kita harus berangkat juga ke tempat kerja. Kalau kurang boleh disambung di WC, hitung-hitung untuk mengurangi rasa bau dari jamban yang belum disedot berbulan-bulan. Mandi dan cukuran, sekali lagi jangan lupa gosok gigi. Karena bahkan senyum yang terindah seduniapun akan kehilangan nilai jika dibarengi dengan bau yang tak sedap seperti jamban yang belum disedot berbulan-bulan.

Kalau masih kurang kontemplasinya, sambung lagi di WC. WC adalah tempat yang paling pribadi dan tenang diseluruh dunia. Tapi kalau bisa jangan WC yang bisa diduduki karena rasa dingin dari gips bahan pembuat WC itu bisa membuat otot-otot pantat jadi tegang dan keluarnya hajat tidak lancar. Usahakan WC yang mengharuskan kita untuk berjongkok karena tekanan di perut dari kedua belah paha memberikan dorongan tambahan jadi tak perlu capek-capek ngedan. Apalagi dengan musik dangdut dari transistor usang yang bisa digantung dipintu seng WC, dijamin kegiatan pribadi semakin nikmat.

Selesai! Mandi! Kemudian sarapan tapi porsi jangan terlalu besar karena bisa-bisa si bos di kantor bisa murka melihat kita mengangguk-angguk kepala karena kantuk bukan karena mengerti. Cukup setengah piring nasi goreng atau dua potong roti dengan selai srikaya ditambah secangkir kopi atau teh dan jangan lupa sebatang rokok kretek favorit. Setelah itu langsung berangkat kerja!

Tunggu dulu! Mungkin sebagian pasti bertanya ada satu lagi ritual pagi yang terlupa, olah raga! Karena didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita tak butuh olah raga pagi! Bukankah setiap pagi kita harus berlari-lari mengejar angkot yang tak mau berhenti lama. Belum lagi ditambah dengan kemacetan lalu lintas yang cukup menguras keringat karena sang angkot tak dilengkapi AC. Kita kan tidak begitu beruntung dengan kendaraan pribadi berAC dengan stereo merdu. Cukup dengan angkutan rakyat dan olah raga rakyat!

Read More......

HIDUP UNTUK MAKAN ATAU MAKAN UNTUK HIDUP

Mana yang benar? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Mungkin untuk menjaga wibawa atau memang benar-benar pecaya, kebanyakan orang pasti akan mengatakan makan untuk hidup. Kalau aku pribadi, jujur aja philosofi ku pastilah hidup untuk makan. Dan aku benar-benar percaya akan pandangan ini.

Mari kita lihat faktanya. Secara bahasa, yang benar adalah hidup untuk makan bukanlah makan untuk hidup. Kata-kata makan untuk hidup secara sintaksis tidak dapat diperdebatkan keabsahannya. Dalam tingkatan frase, kata-kata ‘makan untuk hidup’ telah memenuhi kaidah bahasa yang walaupun tidak memiliki subjek tapi telah memiliki predikat.

Namun secara semantik, kumpulan kata-kata itu tidak memiliki arti. Karena dalam tatanan semantik, suatu kalimat atau frase harus memiliki pengertian yang memenuhi logika. Sebagai contoh: ‘anak melahirkan ibunya’. Secara sintaksis kata-kata tersebut adalah kalimat diatas memiliki subjek kata ‘anak’, predikat ‘melahirkan’, dan objek kata ‘ibunya’, tapi kalimat diatas tidak memiliki logika bahasa dimana seorang anak tidak mungkin untuk melahirkan ibunya sendiri. Begitu juga dengan kalimat ‘makan untuk hidup’, kalimat ini memiliki pengertian bahwa makan bukanlah pekerjaan yang absolut dimana ada pilihan lain untuk hidup. Sedangkan kita ketahui bahwa tidak ada satupun manusia diatas dunia ini yang mampu untuk bertahan hidup tanpa ada asupan makanan.

Dalam kehidupan nyata, kalimat ‘hidup untuk makan’ juga lebih tepat daripada ‘makan untuk hidup’ walaupun bakalan banyak orang yang menyangkalnya terutama mereka-mereka yang menerapkan’ hidup untuk makan’.

Kata ‘makan’ dalam konteks ini bukan hanya memiliki arti memakan makanan, namun ‘makan’ memliki arti yang lebih luas. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan dengan cara yang halal maupun haram. Banyak juga yang menggadaikan semua yang dimiliki secara moril maupun materiil untuk mendapatkan kekuasaan. Banyak lagi yang melakukan apa saja untuk mendapatkan popularitas. Jadi makan itu bukan hanya untuk memuaskan nafsu lapar kita akan makanan tapi makan juga adalah tindak kelakuan kita untuk memenuhi nafsu yang lain.

Dari masa ke masa, jaman ke jaman, manusia selalu berlomba untuk menguasai segala hal yang dapat dikuasai di dunia ini. Jika manusia tidak dapat menguasai suatu hal langsung dari alam atau mampu menciptakan hal untuk memenuhi nafsunya, maka mereka akan berusaha untuk menguasai hal-hal yang telah dikuasai oleh yang lain. Telah banyak manusia yang menjadi korban untuk memenuhi hawa nafsu yang lain dikarenakan keinginannya untuk makan. Karena keinginan manusia untuk makan inilah maka sejarah manusia selalu dipenuhi dengan pembunuhan dan pemerkosaan.

Karena bangsa Eropa lapar dan dapurnya tidak dapat menghasilkan makanan yang cukup dan lambungnya lebih besar daripada yang lain maka mereka berjalan kebenua lain yang memiliki dapur yang menghasilkan makanan-makanan lezat yang melimpah ruah. Jadilah bangsa Eropa selama ratusan tahun menumpang makan kebangsa lain dengan terkadang lupa untuk dibayar dan meninggalkan sampah yang menumpuk.

Yang terbaru, mungkin rasa lapar akan minyak bumi. Setiap negara yang memiliki hasil bumi yang melimpah adalah dapur dan tong sampah untuk mereka-mereka yang lapar. Sampahnya?! Ketidakamanan karena sang lapar ingin menguasai dapur sehingga tidak perlu makan dengan takaran si koki tapi dapat makan sampai perut melendung. Jadinya si koki dihasut dengan sang istri agar sang lapar bisa makan bebas. Kalau si koki sampai berkelahi dengan sang istri maka sang lapar bisa mengambil pihak dengan imbalan makan gratis dan juga sang lapar bisa menjual alat-alat masak baru karena bakalan ada dapur baru. Jadi dapur yang telah panas, semakin dipanas-panasi agar si koki jadi cerai dengan sang istri.

Asap bakaran dapur juga jadi masalah. Sang lapar marah karena asap dari dapur si koki membuat rumahnya seperti kebakaran. Si koki bingung karena dimana-mana kalau masak pasti ada asapnya. Tapi sang lapar tidak mau tahu karena asap bukan urusannya. Yang menjadi urusannya cuma makanan dari dapur bukan asap dari dapur. Kalau si koki mau dibantu dengan asap maka si koki harus memberi makan gratis.

Jadi sekarang milih yang mana? Pura-pura percaya kalau kita makan untuk hidup atau mau jujur mengakui kalau kita itu hidup unutk makan!!!

Read More......

Thursday, May 24, 2007

MASA YANG INDAH

Belakangan ini aku sering memperhatikan anak-anak yang tinggal di komplek apartment tempat aku tinggal. Satu yang menyolok dalam perhatianku adalah anak-anak ini jarang bermain diluar komplek gedung, paling jauh mereka bermain hanya didepan gerbang komplek. Saat melihat anak-anak ini aku jadi teringat dengan anak-anak yang tinggal dilingungan rumahku.

Kalau ku bandingkan dengan masa kecilku, sangat jauh perbedaan antara masaku dan masa sekarang. Dulu disekitar lingkungan tempatku tinggal masih banyak terdapaty tanah kosong dan lapangan sehingga masih banyak tempat untuk kami saat itu untuk bermain sepuas-puasnya. Tapi sekarang disekitar tempat tinggalku sudah tidak ada lagi tempat untuk anak-anak untuk bermain bebas. Paling banter mereka cuma bermain di seputar rumah dan jalanan gang yang luasnya tidak seberapa. Sekarang lingkungan tempatku tinggal sudah dipenuhi dengan bangunan beton ruko bahkan hingga kedalam gang kecil. Kalau ku perhatikan lebih teliti lagi, sudah tidak ada lagi sejengkal tanah pun yang dapat terlihat, semua permukaan tanah di gang belakang rumahku sekarang telah ditutupi dengan lapisan semen.

Sekarang ini anak-anak yang ada dilingkungan tempatku tinggal lebih banyak dihibur dengan permainan elektronik seperti Play Station, Xbox dan permainan semacamnya. Jarang ada diantara mereka mengenal permainan yang dulu sering kami sebagai anak-anak sering mainkan. Dulu waktu aku masih kecil jarang ada teman yang memiliki permainan video game seperti itu yang pada masa itu didominasi oleh Spica dan Nintendo. Bahkan untuk televisi dulu tidak banyak pilihan karena memang waktu tiu yang ada cuma TVRI dan kalau ingin melihat acara TV lain yang biasanya stasiun TV Malaysia, seringnya kami harus memanjat pagar dan mengintip melalui jendela tetangga dari etnis Cina dan biasanya pasti diusir. Cuma ada satu orang tetangga yang dari etnis Cina itu yang biasanya mengizinkan kami untuk menonton TV dirumahnya, aku tidak tahu nama aslinya karena biasanya kami memanggilnya dengan Nyonya. Bahkan seringnya dia memanggil kami dan menyuguhkan makanan kecil.

Dan setiap raya Cina atau Cap Go Meh, Nyonya itu biasanya juga mengundang kami anak-anak untuk datang bertamu kerumahnya dan satu-dua diantara kami biasanya bakalan dapat angpau. Selain Nyonya itu ada juga salah seorang tetangga dari etnis Cina yang cukup baik hati terutama terhadap kami anak-anak, kami biasa memanggilnya dangan Nenek.

Dulu begitu banyak permainan yang bisa dibilang tradisional seperti Dompu, Alep Cendong atau ditempat lain mungkin dikenal sebagai Gobak Sodor, Alep Berondok atau Petak Umpet, Kuda Tunggang, Alep Buaya, Batalion, Engklek, Hompimpa dan banyak lagi permainan anak yang lain. Dari semua permainan itu aku paling malas kalau main Kuda Tunggang karena pasti aku jarang dikasih ikut bermain oleh kawan-kawan yang lain. Alasannya karena badanku terlalu gendut. Jadinya tidak ada yang bisa memanggulku keliling, yah nasibnya anak gendut, kadang jadi bos tapi kadang cuma bisa jadi penonton!

Kuda Tunggang biasanya dimainkan oleh dua kelompok dan salah seorang anak yang tidak masuk dalam kedua kelompok akan bertugas sebagai tiang, nah tugas ini yang biasanya boleh ku mainkan. Tiang bertugas sebagai tempat tumpuan kelompok yang mendapat gilirang menjadi kuda. Kelompok yang bertugas menjadi kuda akan membentuk barisan dengan membungkuk dengan saling memeluk pinggang orang yang ada didepannya. Diujung barisan adalah tiang. Kelompok yang menjadi penunggang akan melompat keatas punggung kuda sampai semua anggota kelompok dapat berada diatas punggung kuda. Setelah semua naik kepunggung kuda, penunggang pertama akan tanding suit dengan tiang. Jika kelompok penunggang kalah tanding suit atau terjatuh dari punggung kuda karena kesalahan sendiri maka sebagai hukumannya mereka akan gantian bertugas sebagai kuda. Namun jika kelompok yang menjadi kuda tidak dapat mempertahankan formasinya atau kelompok penunggang menang dalam tanding suit maka kelompok kuda harus memanggul para penunggang sampai jarak yang ditentukan.

Selain permainan-permainan anak tersebut banyak juga mainan yang tidak harus dibeli di toko mulai dari ikan laga, karet gelang, biji pohon karet, tembak-tembakan dari pelepah daun pisang, mobil-mobilan dari kaleng dan bilah bambu bahkan tempurung kelapa bisa menjadi banyak macam mainan mulai dari engrang sampai senter lilin.

Untuk mencari biji pohon karet yang biasa kami sebut dengan ‘para’ biasanya aku bersama teman-teman akan melakukan ‘ekspedisi’ kecil-kecilan. Jarak perkebunan karet yang terdekat dari tempat sekitar kurang lebih 15 km dari tempat tinggalku didaerah Marcapada. Kalau mencari biji karet di Kuala, kami harus menyisihkan sebagian uang jajan yang tak seberapa untuk ongkos bus karena tempatnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan mengendarai sepeda apalagi dengan berjalan kaki. Biasanya kami akan melakukan perjalanan ekspedisi itu pada akhir pekan atau hari libur sekolah. Kadang untuk menempuh jarak itu kami akan mengendarai sepeda namun lebih sering dengan berjalan kaki atau menumpang truk pengangkut galian C yang banyak lalu lalang ke arah perkebunan karet yang tak jauh dari sungai tempat truk-truk itu mengambil muatan.

Biasanya juga kami pasti membawa bekal untuk dijalan tapi biasanya aku yang kebagian tugas untuk bawa nasi karena mamakku punya kedai nasi jadi kalau masalah nasi bungkus gampang dapat. Dulu waktu kecil aku punya skopel atau tali pinggang kanvas tentara lengkap dengan velves tempat air pemberian abang sepupuku yang jadi polisi. Jadi lengkap dengan skopel, velves dan topi koboi loreng, aku jadinya seperti komandan yang memimpin pasukan kecil yang akan menyergap musuh, bukan berarti aku sok bos diantara teman-temanku yang lain namun memang badanku lebih besar dari yang lain.

Memang jarak yang dijempuh relatif jauh, namun tempat yang harus kami lalui masih asri dan indah jadinya tidak membosankan. Banyak juga sungai besar dan kecil yang kami lalui sehingga kalau badan gerah bisa berhenti untuk beristirahat dan membuka bekal dan diteruskan dengan mandi dan berenang disungai. Perjalanan melalui perladangan dan pematang sawah itu biasanya kami tempuh selama 3 hingga 4 jam karena sudah pasti lebih banyak berhentinya karena sang ‘komandan’ kecapekan membawa badannya yang besar.

Memang sebenarnya untuk mendapatkan biji karet atau ‘para’ itu tak perlu berjalan sejauh itu karena hampir di setiap sekolah dasar setiap musim ‘para’ banyak orang yang menjual diluar pagar sekolah. Namun harganya bisa sangat mahal untuk ukuran anak-anak waktu itu. Untuk ‘para’ dengan kualitas biasa harganya bisa Rp 25,- atau Doplim, yang sedang sekitar Limpol atau Rp 50,- dan yang paling bagus bisa sampai Rp 100,- hingga Rp 200,-. Mungkin untuk anak-anak zaman sekarang ini uang segitu tak ada artinya dan bahkan mungkin mereka tidak pernah memegang uang dengan pecahan sekecil Rp 25,- tapi untuk masa itu uang Doplim bisa untuk beli kerupuk atau es boks satu.

Terkadang kalau melihat anak-anak zaman sekarang, aku merasa kasian juga. Memang kayaknya anak-anak zaman sekarang terutama yang hidup diperkotaan tampak lebih bersih dan sangat terurus namun kalau diperhatikan lebih baik kebanyakan kulitnya pucat karena jarang terkena sinar matahari, beda dengan anak-anak zamanku dan yang sebelumku, walaupun dengan baju sedikit koyak dan kulit hitam terpanggang matahari namun bersinar sehat.

Banyak lagi yang bisa ku ceritakan tentang masa kecilku bersama teman-teman. Bagaimana petualangan kami ke sawah-sawah atau rawa-rawa untuk mencari ikan laga, di kejar-kejar Wak Amat tukang kebun Wak Hamid karena ketahuan mencuri kuini, asyiknya mandi dan berenang di sungai Bingai sambil membuat bola pasir untuk diadu, bagaimana takutnya lari tunggang langgang dikejar anjing Pak Aheng atau Bu Elis, bagaimana harus lari menyelamatkan diri dari kejaran Wak Fozi karena ketahuan menebangi pohon pisang dikebunnya untuk dibuat rakit, dan banyak lagi. Mungkin lain waktu akan ku ceritakan lagi petualangan-petualangan masa kecilku yang tak kalah seru dari kisah detektif-detektif cilik Enyd Blyton. Namun saat ini sampai disini dulu.

Read More......

Saturday, May 19, 2007

TULISAN

Bayangkan dunia tanpa tulisan. Pastilah yang pertama terlintas adalah dunia di masa pra sejarah karaena kata pra sejarah sendiri mengacu pada dunia atau peradaban tanpa tulisan, tanpa catatan jelas akan kehidupan manusia di masa itu.

Banyak teori mengenai sistem penulisan pertama di dunia namun konvensi dari banyak ahli, sistem penulisan Cuneiform pada peradaban Sumeria atau dikenal juga sebagai peradaban Lembah Indus/Mesopotamia. Dari pengukuran umur karbon terhadap kepingan gerabah yang ditulisi dengan simbol-simbol Cuneiform, ditemukan bahwa sistem penulisan ini sudah berumur lebih dari 5000 tahun.

Memang ada sistem penulisan yang berumur lebih tua seperti sistem penulisan Cina kuno yang ditemukan pada tahun 2003 di wilayah Jihau, Hunan. Sistem penulisan ini berumur sekitar 8000 tahun atau telah ada sejak tahun 6000 SM. Namun sistem ini masih dianggap belum memadai untuk dikategorikan sebagai sistem penulisan yang memiliki struktur ketat. Seperti umumnya sistem penulisan kuno lainnya, simbol yang digunakan dalm sistem penulisan Jihau masih berupa simbol logografik dimana bahasa bahasa disimbolkan dengan gambardari alam sekitar.

Satu bukti yang sangat menarik adalah sistem penulisan selalu berkembang sejalan dengan perkembangan suatu peradaban, terlepas dari adanya hubungan dengan peradaban yang lain. Sebagai contoh, terdapat juga sistem penulisan di benua Amerika dimana baru sampai abad ke 15 baru memiliki hubungan dengan peradaban dari dunia lain.

Jadi apa yang mendasari penciptaan sistem penulisan dalam suatu peradaban?

Saat manusia mulai keluar dari gua dan mulai dihidup di dunia luar, anggota kelompok masyarakat juga bertambah seiring dengan kebutuhan untuk melindungi diri baik dari serangan binatang buas maupun kelompok masyarakat yang lain. Anggota somah yang pada awalnya hanya berdasarkan ikatan darah meluas dengan meningkatnya jumlah anggota masyarakat ini. Pada masa inilah manusia mulai mengenal dan mengembangkan teknologi pertanian dan peternakan.
Cara hidup mulai berubah dari hanya mengumpulkan apa yang dihasilkan alam dengan manipulasi lingkungan untuk menghasilkan bahan kebutuhan anggota masyarakat. Pada masa ini juga manusia mulai mengenal adanya kepemilikan pribadi atas barang materi.
Cara hidup dengan kelompok yang besar juga membutuhkan adanya aturan diantara anggota masyarakatnya sendiri. Terutama aturan mengenai tanggung jawab setiap anggota masyarakat dan aturan kepemilikan barang materi. Sebelum adanya tulisan beberapa dari anggota masyarakat memiliki tugas untuk menghafal semua aturan. Lebih dari itu mereka juga bertugas untuk menghafal silsilah keluarga dalam masyarakat. Kebiasaan ini sampai saat ini masih dapat ditemui pada beberapa suku pengembara di benua Afrika dimana sistem budayanya bersandar sepenuhnya dari memori anggota suku.

Namun permasalahan mulai muncul saat anggota masyarakat semakin bertambah banyak dan orang-orang yang bertugas sebagai penghafal meninggal dunia tanpa sempat untuk mewariskan pengetahuannya kepada penerus. Banyak dari aturan dan traktat dalam masyrakat hilang bersama para penghafalnya.

Beberapa dari anggota masyarakat mulai menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan catatan-catatan terutama yang berhubungan dengan perdagangan. Penggunaan simbol-simbol ini semakin luas saat kebutuhan untuk mencatat setiap perkembangan dalam masyarakat semakin meluas. Dan simbol yang pada awalnya menggambarkan benda dari lingkungan sekitar berkembang dan berubah menjadi lambang-lambang abstrak. Dan lambang-lambang abstrak inilah yang kemudian berkembang sebagaia apa yang kita kenal sebagai sistem alfabet moderen.

NOTHING CAN EVER BE AS SHOCKING AS LIFE. EXCEPT WRITING.
Ibn Zerhani
(The Black Book, Orhan Pamuk)

Read More......